PPKM di Bulak Banteng Ricuh, Bagaimana Islam Memandang Hal tersebut?

0
28
Bulak Banteng

Bulak Banteng – Belakangan ramai diperbincangkan keramaian masyarakat Bulak Banteng, Kenjeran, Surabaya dengan petugas gabungan Forkopimka saat patroli di Jalan Bhineka, Bulak Banteng. Melansir Radar Surabaya pada 11 Juli kemarin hal ini dilatarbelakangi oleh seorang pemilik warung yang masih membuka warungnya lebih dari jam PPKM berlaku.

Sobat Cahaya Islam, kita ketahui bersama bahwa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) pulau Jawa–Bali mulai berlaku sejak tanggal 3–20 Juli dengan membatasi kegiatan warga hanya sampai pukul 20.00 waktu setempat. Termasuk mall, supermarket, minimarket, toko kelontong, juga warung kopi harus tutup pada jam tersebut.

Namun, yang terjadi salah seorang pemilik warung kopi di Bulak Banteng, Surabaya masih membuka warugnya melebihi batas jam PPKM dan petugas gabungan yang terdiri dari Polsek Kenjeran, Linmas, dan Satpol PP meminta pemilik warung untuk menutup warungnya tetapi pemilik warung melawan para petugas.

Alhasil warga sekitar yang mengetahui hal tersebut beramai-ramai melawan petugas bahkan merusak mobil petugas dengan melempari menggunakan batu. Mobil petugas mengalami pecah kaca akibat perbuatan warga. Terlihat dari video amatir yang telah tersebar di berbagai media, pihak Polsek Kenjeran menyayangkan perbuatan warga Bulak Banteng.

Pandangan Islam terhadap Pandemi dan Kericuhan Warga Bulak Banteng

Sobat Cahaya Islam pandemi Covid-19 telah setahun lebih kita perangi bersama. Segala jenis peraturan dan kebijakan yang dirasa paling baik untuk mengatasi pandemi terus saja diujicobakan. Meski sempat menurun pada awal Februari kemarin. Namun, di pertengahan Juni kasus Covid-19 kembali melonjak naik secara drastis.

Akibatnya seluruh lapisan masyarakat terkena dampaknya. Terutama bagi rakyat kecil yang pendapatannya diperoleh dari bekerja sehari-hari. Contoh saja para tukang tambal ban, pemilik warung seperti di Bulak Banteng, tukang becak, supir angkutan umum, dan masih banyak lagi rakyat kecil yang terkena dampak akibat PPKM ini.

1.     Rakyat Perlu Berikhtiar

Bulak Banteng

Meski kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi pandemi sangat berdampak pada keberlangsungan kesejahteraan rakyatnya. Namun, ini semua merupakan salah satu bentuk dari ikhtiar. Sebagaimana vaksinasi yang digalakkan oleh pemerintah. Meski tidak menutup kemungkinan mereka yang telah vaksin tetap bisa terpapar Covid.

Bukan berarti dengan PPKM, vaksinasi, dan segala kebijakan pemerintah Covid langsung dapat hilang. Namun, kita perlu berikhtiar kepada Allah. Sebagaimana ketika kita menghadapi ujian kenaikan pangkat. Tentu kita harus belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, apakah kita akan lulus itu bagian dari kuasa Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam Al-Quran berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Rad ayat 11).

2.     Seluruh Rakyat Bekerjasama

Bulak Banteng

Menghadapai pandemi Covid-19 bukan hanya tugas pemerintah maupun rakyat kecil saja. Namun, seluruh masyarakat Indonesia sebaiknya bekerjasama agar pandemi segera usai. Jika dirasa kebijakan pemerintah tidak solutif, maka pendapat rakyat dalam beraspirasi berhak diberikan.

Begitupula para pejabat tinggi negara. Bukankah beberapa kasus korupsi membuat rakyat menjadi tidak percaya terhadap segala kebijakan pemerintah? Hal ini tentu membuat sekat antara pemerintah dan warga sipil.

Demikian kasus kericuhan di Bulak Banteng dan bagaimana sebaiknya kita bersikap dalam menghadapai pandemi Covid-19 sesuai ajaran Islam. Semoga kericuhan serupa tidak terjadi lagi agar Indonesia segera terbebas dari Covid-19.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY