Merawat Para Lansia yang Terbuang Dilakukan oleh Pondok Pesantren SPMAA Lamongan

0
65
Pondok Pesantren SPMAA

Pondok Pesantren SPMAA – Hendra asal Gresik begitu menikmati kehidupan barunya di kamar lansia milik Yayasan Pondok Pesantren SPMAA atau Sumber Pendidikan Mental Agama Allah di Desa Turi, Kabupaten Lamongan, Sabtu (8/6/2024). Dengan berkaos oblong dan bersarung, Hendra turut menceritakan bahwa dirinya sebelum di SPMAA mengalami hidup yang sulit.

Bahkan, dirinya menderita stroke dan tidak didampingi oleh keluarga dalam proses penyembuhan. Sebelum sakit, Hendra sendiri merupakan seorang pegawai kantor dan memiliki keluarga yang lengkap. Menurutnya, sikap keluarganya berubah setelah dirinya mengalami sakit.

Tentang Pondok Pesantren SPMAA Lamongan

Hendra turut diawasi oleh santri Di SPMAA. Dirinya tinggal bersama tujuh orang lansia dan dirawat oleh seorang santri bernama Zikri Tri Septian. Lokasi kamar Hendra sendiri terletak di sebelah barat masjid utama SPMAA.

Di kamar yang sederhana tersebut, Hendra telah disediakan sebuah ranjang tidur beserta kasur, bantal, lalu lemari untuk pakaian, meja kecil dan kipas angin. Pondok Pesantren SPMAA ini juga merawat lansia perempuan, kamarnya berada di sebelah timur masjid dan jumlahnya lebih banyak dari lansia laki-laki.

1. Dirawat Langsung oleh Santri

Pondok Pesantren SPMAA

Hendra, juga didampingi oleh santri putri setiap harinya. Saat NU ke SPMAA, ternyata sudah ada puluhan santri yang terdiri dari lansia, anak yatim, berkebutuhan khusus, serta santri lainnya yang tampak khusyu berdzikir di masjid bersama Gus Adhim.

Untuk menuju SPMAA sangat mudah, karena letaknya di sisi timur Jalan Raya Desa Turi, Kabupaten Lamongan. Bahkan, hampir sepanjang jalan raya tersebut masyarakat mengetahui lokasi SPMAA.

Kegiatan sehari-hari Selama di SPMAA, Hendra mengatakan bahwa kegiatan sehari-harinya yakni dzikir, olahraga, shalat lima waktu, makan, belajar nyapu agar tubuhnya kembali normal.

Hendra juga menjelaskan, untuk makan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari. Khusus untuk memasak, biasanya dilakukan oleh para santri secara bergantian dengan diawasi oleh pengurus. 

2. Ciptakan kepedulian santri

Perawat lansia yang bernama Zikri Tri Septian asal Kalimantan Timur menceritakan, setiap hari kegiatannya merawat lansia.

Baik itu, mulai dari menjaga kebersihan, mengambilkan minum, makan setiap pagi dan setelah shalat maghrib. Nantinya, para perawat lansia ini setiap beberapa bulan sekali akan langsung diganti dengan santri lainnya.

Tujuan utamanya untuk menciptakan rasa peduli serta menanamkan empati di hati para santri SPMAA.

Zikri juga telah menceritakan, selain Pak Hendra, dirinya juga merawat Mbah Syamsul (80). Dirinya ditinggal anak dan istri. Bahkan, sempat dibuang di jalan lalu dibawa oleh masyarakat ke SPMAA. 

Selain itu, juga ada Mbah Slamet, karena ditolak keluarga dan nyaman di SPMAA. Nama lain yakni Mbah siman (85) berasal dari Kabupaten Ngawi dan Mbah Nur Sahid (98).

Zikri turut mengatakan, dirinya belajar banyak dari tugasnya merawat lansia, terutama ilmu kemanusiaan. Bukan hal mudah untuk merawat lansia, apalagi hal tersebut dilakukan secara gratis. Sehingga Sobat Cahaya Islami perlu niat yang kuat dan keikhlasan tinggi.

3. Misi kemanusiaan pesantren

Pondok Pesantren SPMAA

Gus Ashabun Naim, selaku Direktur Yayasan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) menjelaskan, bahwa instansi tersebut didirikan KH M Muchtar pada 27 Oktober 1961 di Desa Turi.

Pesantren ini mempunyai misi kemanusiaan yang cukup kuat. Saat ini SPMAA telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Pondok Pesantren SPMAA berada di SPMAA Batam, SPMAA Bali, SPMA Merangin, Palembang, Semarang, Boyolali, Sragen, Gunung Kidul, Magetan, dan lain daerah lainnya.

Sumber: https://www.nu.or.id/daerah/pondok-pesantren-spmaa-lamongan-rawat-para-lansia-yang-terbuang-V8V1B

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY