Pinjaman untuk Melunasi Hutang Riba, Bolehkah? Begini Penjelasannya

0
218
pinjaman untuk melunasi hutang riba

Pinjaman untuk melunasi hutang riba – Nominal hutang riba akan terus bertambah jika tidak segera dilunasi. Untuk melunasinya, beberapa orang memilih pinjaman untuk melunasi hutang riba.

Pertanyaannya, apakah berhutang untuk melunasi hutang riba diperbolehkan menurut pandangan syariat Islam?. Karena aturan mengenai utang-piutang cukup detail, sebaiknya ketahui terlebih dahulu pembahasannya lengkapnya.

Mengetahui Hukum Berhutang

Tingkat perekonomian yang rendah menjadi alasan bagi banyak orang memutuskan untuk berhutang. Dalam Islam, hutang diperbolehkan ketika berada di posisi terdesak dan ada niatan untuk melunasi meski nominalnya kecil sekalipun. Mengenai hal ini dijelaskan pada QS Al-Baqarah ayat 282 yang berbunyi:

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan……….” (QS. Al-Baqarah: 282)

Dalam transaksi utang piutang tidak diperbolehkan memberlakukan praktik riba, yaitu penambahan nilai saat mengembalikan pinjaman. Namun, jika penambahan nilai tersebut tidak dikaitkan oleh waktu ketika akad, maka diperbolehkan.

pinjaman untuk melunasi hutang riba

Maksudnya adalah sang peminjam memang sengaja melebihkan nilai pengembalian pinjamannya sebagai tanda terimakasih kepada orang yang meminjami. Praktik seperti ini sudah ada di masa Rasulullah SAW, seperti yang diceritakan pada hadits berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي رَافِعٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا فَأَتَتْهُ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَقَالُوا لَا نَجِدُ لَهُ إِلَّا رَبَاعِيًا خِيَارًا قَالَ أَعْطُوهُ فَإِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id] dari [Malik] dia berkata, telah menceritakan kepadaku [Zaid bin Aslam] dari [‘Atha’ bin Yasar] dari [Abu Rafi’], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminjam seekor unta muda dari seseorang, kemudian beliau mendapat unta dari unta sedekah (zakat), maka beliau pun berkata: “Berikanlah kepadanya.” Para sahabat pun bertanya, “Kami tidak mendapatkan kecuali unta bagus dan telah berumur tujuh tahun.” Beliau pun bersabda: “Berikanlah padanya karena sebaik-baik manusia adalah yang terbaik dalam pelunasan.” (HR. Ahmad nomor 25928)

Hukum dan Syarat Pinjaman untuk Melunasi Hutang Riba

pinjaman untuk melunasi hutang riba

Melunasi hutang hukumnya adalah wajib, apalagi hutang riba yang jelas-jelas diharamkan berdasarkan syariat Islam. Pelunasannya harus sesegera mungkin dilakukan agar tidak menambah dosa.

Terkait hukum pinjaman untuk melunasi hutang riba boleh atau tidak akan dijelaskan pada ulasan berikut:

1. Hukumnya Boleh

Pada sumber yang dirujuk, tidak ada larangan mengembalikan pinjaman riba dengan uang pinjaman juga. Catatannya, uang pinjaman tersebut bukan termasuk riba dan dijalankan dengan akad sesuai yang disyariatkan.

2. Syarat Pinjaman

Kebolehan meminjam untuk melunasi hutang riba yaitu jenis hutangnya bukan sama-sama riba. Sebaiknya, lunasi hutang riba dengan bantuan keluarga, lembaga khusus yang menjalankan sistemnya berdasarkan hukum syariat Islam, atau lainnya.

Kesimpulannya, hutang dan pinjaman untuk melunasi hutang riba dibolehkan, asalkan sesuai aturan agama. Jika Sahabat Cahaya Islam Berhutang, pastikan untuk melunasinya agar tidak sampai mendapatkan azab di akhirat kelak.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY