Pengertian Hadits Masyhur Lengkap dengan Contohnya

0
1298
pengertian hadits masyhur

Pengertian hadits masyhur – Masyarakat awam mungkin banyak yang belum tahu pengertian hadits masyhur. Hadits merupakan sumber hukum dalam agama Islam selain Al Quran. Hadits sendiri terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan sanad dan perawinya.

Para ulama sendiri memiliki beragam pengertian terkait hadits masyhur. Ada yang menyebutkan bahwa hadits masyhur diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi. Ada juga yang menyebutkan hadits masyhur sebagai hadits yang belum sampai pada titik mutawatir. Mari kita simak penjelasan lengkapnya.

Apa Pengertian Hadits Mashyur dan Contohnya

Dalam Bahasa Arab, kata masyhur berasal dari kata syaharah yang memiliki arti ketenaran sesuatu atau menyebarkan sesuatu. Secara istilah, masyhur dapat diartikan sebagai sebuah hadits yang memiliki jalur sanad lebih dari dua orang.

Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadits masyhur adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih. Sementara Imam Al Bayquni menyebutkan bahwa hadits masyhur adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi.

Beberapa ulama menyamakan hadits masyhur seperti hadits mustafid dikarenakan dari segi bahasa memiliki kesamaan arti yakni ‘yang sudah tersebar’ atau ‘yang sudah populer’. Berdasarkan penelitian terhadap berapa jumlah perawi haditsnya, maka hadits ini ditelaah sejak tingkatan pertama.

Tingkatan tersebut yakni para sahabat Rasul hingga ke tingkat Imam yang membukukan hadits. Semua diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi di setiap tingkatannya.

Dalam memahami pengertian hadits masyhur dibutuhkan contoh agar langsung mengerti apa yang dimaksud. Simak beberapa contoh hadits mashyur yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber.

1. Contoh Hadits Masyhur di Kalangan Para Ahli

pengertian hadits masyhur

Berikut ini contoh hadits yang terkenal di kalangan para ahli, berbunyi

و حَدَّثَنَا أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ الْمِصْرِيُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُا إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Telah menceritakan kepada kami [Abu ath-Thahir Ahmad bin Amru bin Abdullah bin Amru bin Sarh al-Mishri] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahab] dari [Amru bin al-Harits] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Abu al-Khair] bahwa dia mendengar [Abdullah bin Amru bin al-Ash] keduanya berkata, “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Muslim yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Yaitu seorang Muslim yang orang lain merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.”(HR Muslim No. 57)

2. Contoh Hadits Masyhur Khusus

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ هِلَالِ بْنِ خَبَّابٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

Telah menceritakan kepada Kami [Abdullah bin Mu’awiyah Al Jumahi], telah menceritakan kepada Kami [Tsabit bin Yazid] dari dari [Hilal bin Khabbab] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas], ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam melakukan qunut selama satu bulan berturut-turut ketika shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh di akhir setiap shalat, tatkala mengucapkan: “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH” pada raka’at terakhir. Beliau mendoakan atas beberapa perkampungan dari Bani Sulaim, yaitu Ri’l, Dzakwan, serta ‘Ushayyah, dan orang-orang yang dibelakangnya mengamininya. (HR Abu Daud No. 1231

3. Hadits yang Masyhur di Kalangan Ahli Fiqih

Salah satu hadits masyhur yang populer di kalangan ahli fiqih adalah hadits mengenai perceraian yang diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud berikut ini,

حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ مُعَرِّفِ بْنِ وَاصِلٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

Telah menceritakan kepada kami Katsir bin ‘Ubaid, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalid dari Mu’arrif bin Washil dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Perkara halal yang paling Allah benci adalah perceraian.”(HR Abu Dawud No. 1863)

4. Hadits yang Populer di Kalangan Masyarakat Awam

pengertian hadits masyhur

Berikut ini adalah contoh hadits yang cukup terkenal di kalangan masyarakat awam yaitu,

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمُهَيْمِنِ بْنُ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَنَاةُ مِنْ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنْ الشَّيْطَانِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ فِي عَبْدِ الْمُهَيْمِنِ بْنِ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلٍ وَضَعَّفَهُ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَالْأَشَجُّ بْنُ عَبْدِ الْقَيْسِ اسْمُهُ الْمُنْذِرُ بْنُ عَائِذٍ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Mush’ab Al Madani], telah menceritakan kepada kami [Abdul Al Muhaimin bin Abbas bin Sahl bin Sa’d As Sa’idi] dari [bapaknya] dari [kakeknya] ia berkata; Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sifat hati-hati (waspada) itu dari Allah dan tergesa-gesa itu godaan dari setan.” Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits Hasan Gharib. Sebagian ahli hadits telah mencela Abdul Muhaimin bin Abbas bin Sahl dan mendha’ifkannya dari segi hapalannya. Asyaj bin Abdil Qais bernama Al Mundzir bin ‘Aidz.(HR Tirmidzi No. 1935)

5. Hadits yang Terkenal di Kalangan Ahli Nahwu

Ilmu Nahwu adalah salah satu bagian dari tata Bahasa Arab yang mempelajari jabatan kata dalam kalimat atau bentuk harokat terakhir pada satu kalimat Bahasa Arab. Di antara para ahli ilmu nahwu, terdapat beberapa hadits masyhur yang salah satunya berbunyi,

نِعْمَ الْعَبْدُ صُهَيْبٌ، لَوْ لم يخف للَّه لَمْ يَعْصِهِ

“Sebaik-baik hamba Allah adalah Suhaib, kalaupun ia tidak tidak punya rasa takut kepada Allah maka ia tetap tidak akan mendurhakainya”.(Syekh Albany No. 1006)

Hadits ini dianggap lemah karena tidak diketahui sanadnya.

Ketika mempelajari pengertian hadits masyhur, perlu diingat bahwa hadits ini tidak sama dengan hadits mustafid jika dilihat dari sudut sanad. Hal ini disebabkan hadits mustafid diriwayatkan oleh empat perawi, sementara hadits masyhur diriwayatkan oleh tiga rawi pada setiap thobaqoh nya.

Persamaan di antara kedua hadits ini hanya sebatas pada istilah saja. Untuk itu kita harus tahu batas pengertiannya apakah secara istilah atau secara sudut pandang sanad. Hal ini penting untuk dipahami agar tidak terjadi kesalahan saat mengelompokkan jenis hadits.

Sobat Cahaya Islam, hadits merupakan bagian yang penting dari hukum Islam. Walaupun hadits merupakan salah satu sumber hukum, hadits sendiri memiliki berbagai jenis dan tingkatan, salah satunya adalah hadits masyhur. Pelajari pengertian hadits mashyur berikut contoh agar semakin paham mengenai perbedaannya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY