Mengenal Perbedaan Israf dan Tabzir dalam Al-Qur’an

0
444
perbedaan israf dan tabzir

Perbedaan israf dan tabzir – Sebagai umat muslim, Sobat Cahaya Islam sudah seharusnya mengetahui perbedaan israf dan tabzir yang seringkali dimaknai sama, yakni berlebih-lebihan terhadap sesuatu.

Padahal kedua kata atau dua sifat tercela ini memiliki makna dan bentuk perilaku berbeda. Selain itu, dua sifat tersebut memiliki bahaya yang ditimbulkan, yang tidak hanya penting diketahui, juga dihindari.

Mengenal 3 Perbedaan Israf dan Tabzir beserta Contohnya

Berikut adalah perbedaan kedua sifat tercela yang wajib sobat ketahui sebagai umat muslim.

1. Berdasarkan Makna

Secara etimologis, ‘israf’ berasal dari kata ‘asrofa-yusrifu-isroofan’ (bahasa Arab) yang memiliki makna bersukaria hingga melampaui batas. Adapun kata ‘tabdzir’ (mubadzir) berasal dari kata ‘badzara-yubadzdziru-tabdziiron (bahasa Arab) bermakna pengeluaran yang bukan haq. Perlu sobat ketahui bahwa kedua sifat tercela ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an.

Pertama, israf dalam surat al-A’raf ayat 31 sebagai berikut:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.“

Kedua, tabdzir (mubadzir) dalam surat al-Isra ayat 26-27 sebagai berikut:

……وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا.

Artinya: “….. janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Terakhir, perbedaan israf dan tabzir disampaikan oleh Ibnu Abidin yang memberikan pengertian sebagai berikut:

أَنَّ الْإِسْرَافَ: صَرْفُ شَيْءٍ فِيْمَا يَنْبَغِيْ زَئِدًا عَلى مَا يَنْبَغِيْ

وَالتَّبْذِيْرَ: صَرْفُ شَيْءٍ فِيْمَا لَا يَنْبَغِيْ

Artinya: “Israf adalah menggunakan sesuatu (harta) untuk sesuatu yang dibenarkan (dibolehkan) namun melebihi batas yang dibolehkan. Tabdzir adalah menggunakan sesuatu (harta) untuk sesuatu yang tidak dibenarkan (haram).

Dengan demikian, kata ‘Israf’ berarti berlebih-lebihan menggunakan sesuatu dalam berbagai perkara yang sebenarnya dibolehkan, tetapi tidak dianjurkan melebihi batas wajar atau sesuai kebutuhan. Misalnya, makan dan menggunakan air secara belebihan, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan sesuatu (harta) yang dibolehkan, hanya saja melebihi batas yang dibutuhkan.

Sementara, ‘Tabdzir’ atau mubadzir dapat diartikan sebagai mengguna sesuatu (harta) untuk hal yang dilarang dalam syari’at (haram), seperti membeli obat-obatan terlarang. Jika dilihat dari maknanya, sikap israf atau sikap tercela ini sudah pasti banyak menghinggapi orang-orang yang tidak ikhlas dan kurang mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

2. Berdasarkan bentuk perilaku

Selain makna, sobat juga dapat mengetahui perbedaan israf dan tabzir dari bagaimana bentuk perilakunya. Berikut perilaku-perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dikategorikan ke dalam israf:

  • Selalu hura-hura tanpa tujuan dan alasan yang jelas sehingga termasuk melakukan suatu pekerjaan yang sia-sia.
  • Kebiasaan mengumpulkan harta tanpa membelanjakannya di jalan Allah.
  • Senantiasa berlebih-lebihan dalam berbagai hal, seperti makanan, minuman, berpakaian, dan bekerja.

Adapun perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dikategorikan ke dalam tabdzir:

  • Membelanjakan dan mengeluarkan harta di jalan Allah hanya untuk mendapat pujian orang lain alias riya.
  • Selalu menyombongkan dan memamerkan harta yang dimilikinya.
  • Membantu orang lain berbuat maksiat, seperti memberikan pinjaman uang untuk obat-obatan terlarang.
  • Merayakan segala sesuatu secara berlebihan, seperti Hari Raya keagamaan.

3. Berdasarkan bahaya yang ditimbulkan

Terakhir, perbedaan dua akhlak tercela seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ialah memiliki atau menimbulkan bahaya masing-masing, baik bahaya bagi diri si pelaku maupun orang lain. Bahaya yang ditimbulkan oleh sikap israf tersebut di antaranya sebagai berikut.

  • Terhentinya suatu amal ibadah karena dilakukan secara berlebihan, seperti melaksanakan puasa tanpa berbuka dan tanpa mengindahkan larangan hukum puasa wishal hanya demi mendapat penilaian sebagai orang yang rajin berpuasa.
  • Tidak peka terhadap lingkungan sekitar karena cenderung berlebih-lebihan dalam hal harta, seperti selalu makan makanan mahal, sedangkan orang lain belum tentu mampu membelinya.

Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh sikap tabdzir di antaranya sebagai berikut.

  • Seseorang menjadi sombong dan suka pamer.
  • Harta yang dimiliki menjadi tidak bermanfaat karena tidak diridhai oleh Allah SWT.
  • Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta tanpa mengindahkan syariat.
  • Menghancurkan diri sendiri akibat kehilangan kendali diri maupun kendali sosial.

Berdasarkan pemaparan perbedaan israf dan tabzir di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dua kata dan sikap tersebut memang terkesan sama, tetapi tetap berbeda dan wajib dihindari.

Itulah mengapa Sobat Cahaya Islam disarankan untuk mengenal dan memahaminya agar dapat menjadi bekal pengetahuan dalam bersikap atau berperilaku serta terbebas dari mara bahaya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY