Bagaimana Menyikapi Budaya Lokal dengan Akhlak Islami? Ini 3 Prinsipnya

0
741
Menyikapi budaya lokal

Menyikapi budaya lokal – Kearifan lokal merupakan bagian dari salah satu aset daerah dan identitas peninggalan nenek moyang. Perlunya pemahaman mendasar bagaimana menyikapi budaya kolak dengan akhlak Islami agar tidak melanggar syariah. Sebab, di Indonesia terdapat berbagai macam suku dengan budaya khas masing-masing. 

Asal-Usul Budaya

Kebudayaan berasal dari kata buddhayah dan bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal atau budi. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut juga culture yang artinya mengolah atau mengerjakan. Islam mengenal istilah kultur atau budaya sebagai adab. Adab dalam Islam mengatur etika dan norma para pemeluknya.

Tuntunan adab turun langsung dari Allah melalui wahyu yang diterima RasulNya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menjadi teladan terbaik untuk etika dan adab. Sebelum Islam datang, budaya jahiliyah berkembang di masyarakat Arab. 

Islam melarang beberapa budaya yang bertentangan dengan syariat, seperti menisbatkan hujan kepada bintang-bintang, tathayyur dan banyak lagi. Dinul Islam memberikan pengarahan menuju prinsip kemanusiaan yang universal sebagaimana ayat berikut ini:

“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”. Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. 1

Proses penetrasi budaya tak bisa terhindarkan karena kehidupan manusia terhubung satu sama lain. Interaksi yang tercipta antara manusia menciptakan proses penetrasi budaya. Penetrasi budaya artinya masuknya pengaruh kebudayaan ke dalam kebudayaan lain. Penetrasi terjadi dengan dua cara yaitu secara damai dan paksaan. 

Bagaimana menyikapi budaya lokal dengan akhlak Islami menjadi hal krusial karena kebudayaan di Indonesia sangat beragam. Sebelum terbentuknya negara Indonesia, kebudayaan lokal berasal dari suku-suku yang beragam. 

Cara Menyikapi Budaya Lokal dengan Akhlak Islami

Sejak pertama kali Islam masuk, agama ini mengalami akulturasi atau percampuran antara unsur kebudayaan satu dengan lainnya. Menyikapi budaya lokal dengan akhlak Islami berakar dari agama yang membuka diri terhadap budaya dari luar Islam. Pemeluk Islam berhak mengemukakan ide sehingga menciptakan budaya-budaya tertentu. 

Menyikapi budaya dan tradisi yang berkembang di luar Islam harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islami, seperti:

  • Tidak melanggar ketentuan hukum halal dan haram yang ada di agama Islam.
  • Mendatangkan kemaslahatan dan tidak menimbulkan kerusakan.
  • Tidak melanggar prinsip Al Wala atau kecintaan kepada Allah.

Ketiga prinsip ini dapat menjadi landasan dalam hal menyikapi budaya lokal dengan akhlak Islami. Tiga prinsip tersebut juga melahirkan kebudayaan Islam dengan ciri khusus berasaskan tauhid kepada Allah. Prinsip tersebut dapat Sobat terapkan melalui cara berikut ini:

1.     Tahmil

Tahmil merupakan apresiasi sendiri dalam menerima berlakunya sebuah tradisi. Prinsip Tahmil Sobat tunjukkan dengan ayat-ayat Al Qur’an yaitu dengan menerima dan melanjutkan tradisi dan menyempurnakan aturannya.

Menyikapi budaya lokal

Pemahaman tentang tahmil terdapat pada hadits berikut ini:

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami ‘Ashim dari Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud berkata, Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, lalu Dia mendapati hati Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai sebaik-baik hati para hamba, lalu memilihnya untuk diri-Nya, Dia juga mengutusnya dengan risalah kemudian Dia melihat pada hati para hamba setelah hati Muhammad, maka Dia mendapati hati para sahabat sebagai sebaik-baik hati para hamba, lalu menjadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya, berperang membela agamanya. Maka apa yang dilihat oleh kaum muslimin satu kebaikan, maka di sisi Allah adalah baik dan apa yang mereka pandang buruk, maka di sisi Allah juga buruk 2 

2.     Tahrim

Sedangkan tahrim yaitu sikap menolak berlakunya tradisi masyarakat. Bentuk dari tahrim yaitu dengan larangan pada adat atau kebiasaan tertentu. Hal ini Sobat lakukan ketika ada adat yang bertentangan dengan Islam.

Menyikapi budaya lokal

3.     Taghyir

Al Qur’an menerima tradisi Arab, akan tetapi memodifikasinya sehingga karakter dasarnya mengalami perubahan. Salah satu yang tidak boleh berubah yaitu pada aturan pakaian dan aurat perempuan atau taghyir.  Ada tiga prinsip dalam Islam dalam menyikapi budaya lokal dengan akhlak Islami.

Ketiga prinsip tersebut dengan menerima, menolak, hingga memodifikasinya. Melalui ketiga prinsip tersebut, maka tidak ada budaya yang melanggar syariat Islam dan Sobat jadikan dasar terhadap kebudayaan lain di luar Islam.


  1. (‘Ali ‘Imran/3:84-85) ↩︎
  2. (HR. Imam Ahmad No. 3418) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY