Larangan Mencela Pemimpin dan Penjelasan Lainnya

0
692
Larangan mencela pemimpin

Larangan mencela pemimpin ini sudah tertuang di dalam Al-Qur’an. Mencela pemimpin termasuk ciri khas dari manhaj yang seringkali dilakukan oleh kaum khawarij.

Awalnya mereka memang hanya sekedar membicarakan aib serta mengkritik pemimpin di atas mimbar, koran, seminar, serta media sosial. Namun, saat itu malah memberontak pemimpin.

Penjelasan tentang Larangan Mencela Pemimpin

Pada dasarnya, metode mengkritik ini merupakan salah satu sumber dari segala fitnah atau kerusakan sepanjang sejarah. Hal tersebut sebagaimana telah dikatakan oleh imam Ibnu Qayyim dalam I’lam Muwaqqi’in (3/7).

1. Bukti Metode

Buktinya metode yang sering diterapkan oleh kaum khawarij ini bisa diperoleh dari riwayat imam Tirmidzi maupun Ziyad bin Kusaib Al-Adawi,

Saya sendiri memang sudah pernah berbicara bersama dengan Abu Bakrah di bagian bawah mimbar Ibnu Amir. Di mana saat itu sedang berkhutbah dan dirinya sambil mengenakan pakaian tipis.

Abu Bilal sendiri mengatakan “lihatlah pemimipin kita, dirinya sendiri hanya menggunakan pakaian orang-orang fasiq.

Abu Bakrah sendiri telah menegurnya sekaligus berkata diamlah, saya sudah mendengar Rasulullah bersabda. Hadits larangan mencela sesama muslim itu berbunyi “Barangsiapa yang saat itu selalu menghina pemimpin di muka bumi, maka niscaya Allah akan menghinakannya“” (Shahih Sunan Tirmdzi no. 1812 oleh Al-Albani).

Imam Dzahabi sendiri mengungkapkan bahwa “Abu Bilal namanya merupakan sosok dari Mirdas bin Udiyyah. Ia merupakan seorang khawarj tulen. Dikarenakan kejahilannya, maka dirinya selalu menganggap bahwa pakaian tipis bagi kaum pria adalah pakaiannya orang fasiq” (Siyar A’lam Nubala’ 14/508 oleh imam Dzahabi).

Sama halnya khawarij, mereka selalu salah kaprah dalam metode mengingkari dan jahil akan hal yang diingkari.

Larangan mencela pemimpin

Satu hal lagi yang perlu diketahui Sobat Cahaya Islami yaitu menghujat pemimpin muslim merupakan ciri khas manhaj khawarij.

Hal tersebut tentunya karena manusia tidak pernah memberontak pemimipin tanpa adanya yang menyalakan api kebencian di hati. Meski dengan adanya dalih dalam menegakkan pilar amar ma’ruf nahi mungkar.

Oleh karena itu, para ulama selalu menilai bahwa para penggerak pemberontakan, pengkritik serta pencela pemimpin adalah khawarij. Bahkan, sepanjang sejarah mereka tidak pernah terlihat memberontak.

2. Kitab Sejarah dan Firaq

Dalam kitab sejarah dan firaq mereka ini sebenarnya seringkali dikenal sebagai Al-Qa’adiyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan telah mensifati sebagian jenis khawarij, yaitu “Kaum Al-Qa’adiyyah merupakan kelompok yang sering melicinkan pemberontakan terhadap pemerintah tidak langsung membrontak”.

Bahkan, terkadang orang yang mengompori untuk berontak lebih jelek dibandingkan dengan yang langsung memberontak. Hal ini tentunya sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Masail Ahmad hal 271 dari Abdullah bin Muhammad.

Larangan mencela pemimpin

Beliau sendiri mengatakan bahwa “Khawarij jenis Al-Qa’adiyyah ini merupakan kelompok khawarij paling jelek”.

Para ulama masa kini memang telah membendung serta memerangi pemikiran khawarij model Al-Qa’adiyyah tersebut.

Dalam hadits Dzil Huwaishiroh, “dalil yang mendasar berontak pada pemimpin sebenarnya tidak hanya dengan pedang semata. Namun, bisa juga dengan perkataan serta ucapan.

Perhatikan, orang terse (Dzul Huwaishrah), dia tidak mengangkat pedang guna membunuh Nabi tapi dia hanya mengingkarinya (dengan terang-terangan). Apabila dijumpai sebagian kitab ahli sunnah yang telah menyatakan bahwa berontak hal itu adalah dengan pedang, maka ini maksudnya puncak pemberontakan”.

Berdasarkan penjelasan diatas, larangan mencela pemimpin memang harus diketahui oleh umat islam agar tidak semena-mena.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY