Jalaludin Rahmat Meninggal dan dihujat, Bagaimana Sikap Rasulullah Saat Ada yang Meninggal?

0
85

Jalaludin Rahmat – Indonesia kehilangan sosok cendekiawan, yaitu Jalaludin Rahmat. Beliau adalah dosen di Universitas Padjajaran Bandung. Pada tahun 2014 hingga 2019 beliau sempat menduduki kursi jabatan DPR-RI dan menjadi politisi dari partai PDIP. Ia menjadi komisi VIII (Agama dan Sosial) selama menjadi DPR-RI.

Kang Jalal, sapaan akrab Jalaludin Rahmat ini menghembuskan napas terakhirnya sekitar Senin petang (15/2) kemarin di RS Santosa Bandung. Sebelum meninggal almarhum Kang Jalal memang terkonfirmasi Covid-19. Namun, saat meninggal belum diketahui pasti apakah masih positif Covid atau telah negatif.

Terlepas dari latar belakang kepercayaan agama yang dimilikinya, Jalaludin Rahmat adalah sosok cendekiawan yang telah melahirkan banyak buku dan juga tokoh Syiah. Meski lahir dan besar dalam lingkup keluarga NU dan Muhammadiyah, Kang Jalal memilih kepercayaannya sendiri pada Syiah sejak sekitar tahun 2000 dan mendirikan IJABI.

IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) didirikan Jalaludin Rahmat pada 1 Juli 2000. IJABI sama halnya dengan Ormas NU maupun Muhammadiyah. Meski ada beberapa perbedaan dalam melaksanakan kegiatan beragama, tetapi kelompok Syiah di Indonesia termasuk kelompok minoritas. Bahkan kasus di Sampang Madura membuat kelompok ini terancam.

Meninggalnya Kang Jalal cukup menjadikan buah bibir di beberapa kalangan. Padahal ia hanya ingin menyuarakan Islam sebagaimana kepercayaan yang dianutnya. Setelah meninggalpun masih saja ada yang menghujatnya. Padahal, Rasulullah telah memberikan contoh bagaimana sikap seorang Muslim yang baik saat ada yang meninggal.

Belajar dari Kisah Rasulullah agar Dapat Menghargai Jalaludin Rahmat

Sebagaimana kisah di atas, ada banyak aliran kelompok aliran keagamaan di Indonesia salah satunya Syiah. Bagi kelompok tersebut mereka merasa cukup terancam sebab pandangan negatif dari orang lain terhadap apa yang menjadi keyakinan mereka. Hal ini selaras dengan kisah Rasulullah yang tetap menghormati non-muslim meskipun telah meninggal.

Sudahkah Sobat Cahaya Islam menerapkan perbuatan Rasulullah ini? Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana sikap Rasul terhadap orang yang meninggal, simak pembahasannya pada poin berikut:

1.      Tidak Memandang Latar Belakang

Rasulullah SAW sangat menghormati manusia. Sekalipun manusia tersebut bukan dari golongan yang sama, bukan pemeluk agama Islam. Kisah ini terjadi ketika Rasulullah berdiri saat sebuah rombongan pengangkut jenazah lewat di depan beliau. Kemudian salah seorang sahabat Rasul memberitahu beliau bahwa yang lewat adalah jenazah seorang Yahudi.

Mendengar pernyataan tersebut Rasulullah SAW menjawab “Bukankah dia manusia?”. Kisah ini diriwayatkan dalam sebuah hadist oleh Jabir bin Abdullah sebagai berikut:

Dari Jabir bin ‘Abdullah katanya, “Jenazah melintasi dekat kami lalu Rasulullah s.a.w. bangun dan kami juga bangun. Kami berkata, “Wahai Rasulullah itu jenazah yahudi.” Baginda bersabda: “Apabila kamu melihat jenazah maka bangunlah.” (HR. Bukhari Nomor 1311)

2.      Menghargai

Sikap kedua adalah menghargai jenazah yang meninggal. Dalam Islam, kita diajarkan perilaku sopan santun. Ketika ada sebuah rombongan pembawa jenazah lewat di depan kita, sebaiknya kita berdiri. Hal ini bukan hanya untuk menghormati jenazah melainkan juga untuk menghormati malaikat pengiring jenazah.

Sobat Cahaya Islam, terlepas dari bagaimana keyakinan yang dianut Jalaludin Rahmat semasa belia hidup, sebagai seorang Muslim sudah sepantasnya kita menerapakn perbuatan Rasul sebagaimana penjelasan poin di atas. Wallahu a’lam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY