Hari Musik Nasional dan Perspektif Dunia Musik Menurut Islam

0
36

Hari Musik Nasional – Peringatan Hari Musik Nasional jatuh setiap tanggal 9 Maret. Sejarah ini bermula ketika masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2013 Presiden SBY menetapkan 9 Maret menjadi hari musik nasional. Tanggal tersebut adalah hari kelahiran WR Soepratman sebagai pencipta lagu “Indonesia Raya”.

Berbicara mengenai hari musik nasional, di masa pandemi seperti sekarang tidak hanya sektor pendidikan yang harus dialihkan secara daring, industri hiburan perfilman, permusikan, juga mengalami kemunduran ekonomi yang cukup signifikan. Para musisi saling berkolaborasi dengan berbagai platform digital untuk terus bereksistensi.

Hal senada diucapkan Presiden Joko Widodo terkait hari musik nasional. Setahun kebelakangan tidak ada pertunjukan musik, tur musik, atau acara musik di berbagai kota-kota di Indonesia. Namun, Presiden Jokowi mengingatkan kepada musisi tanah air untuk tidak patah semangat dan terus berkarya dalam dunia musik.

Kabar menggembirakan bagi musisi tanah air adalah perlindungan kekayaan intelektual tentang musik dan pengembangan materi dalam dunia pendidikan untuk terus mengapresiasi dunia musik tradisional dan nasional. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan khususnya Direktorat bidang Musik.

Namun, ternyata selain peringatan hari Valentine, menikmati musik atau memainkan alat musik masih menjadi perdebatan di kalangan sebagian umat Muslim. Ada yang mengatakan itu haram, ada yang mengatakan itu halal. Jadi, bagaimana sebenarnya musik dan perspektif Islam? Simak penjelasannya berikut ini.

Hari Musik Nasional dan Esensinya dalam Perspektif Islam

Dunia musik menjadi hiburan tersendiri bagi kebanyakan orang. Entah menyelami dengan mendengarkannya atau memainkan alat musiknya. Namun, ada beberapa pendapat yang menyatakan haram bermain atau menyanyikan sebuah musik atau lagu. Ada juga yang memperbolehkannya. Lantas bagaimana penjelasannya? Simak artikel berikut:

1.     Hukum yang Makruh

Ulama yang menyatakan bahwa bermain musik makruh adalah Imam Syafi’i dan Imam Malik. Keduanya mendasarkan hukum makruh bermain musik karena musik dapat melupakan seseorang dari membaca Al-Quran, juga melarang bersanda gurau menggunakan musik.

Ada beberapa alat musik yang tidak diterima oleh golongan ini. Seperti gitar dan seruling. Menurut golongan ini kedua alat musik tersebut merupakan semboyan dari para pemabuk. Wallahu a’lam.

2.     Hukum yang Membolehkan

Sementara itu ulama yang membolehkan bermain musik adalah Imam Ghozali. Menurut beliau bermain musik merupakan dasar hukum fiqih yang tidak disebutkan dalam akidah. Sehingga, tidak ada dalil resmi yang menyatakan tentang keharaman bermain musik. Pun dalam beberapa hal musik dapat memberikan inspirasi dan semangat.

Menurut ulama ini bermusik didasarkan pada niatnya. Permasalahan musik merupakan hukum muamalah dalam fiqih yang asal hukumnya adalah halal. Namun, akan menjadi haram ketika ada dalil yang menyatakan keharamannya. Sehingga, kembali lagi pada niat dalam bermain musik tadi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan kepada tiap orang dikembalikan tiap hal yang ia niatkan.” (HR. Bukhari, No. 6689)

Sobat Cahaya Islam, itu tadi sedikit pencerahan tentang hukum bermain musik menanggapi hari musik nasional. Tentu saja semua didasarkan pada niat. Sehingga, hukum bermusik kembali pada niatnya. Jika digunakan untuk hal negatif tentu hukumnya makruh atau haram, begitu juga sebaliknya. Wallahu a’lam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY