Hadhroh di Tempat Hajatan, Bisa Jadi Tradisi dan Syiar Islam

0
244
Hadroh di tempat hajatan

Hadroh di tempat hajatan – Sobat Cahaya Islam, dalam berbagai acara pernikahan, khitanan, hingga perayaan keagamaan, kita sering mendengar alunan hadroh di tempat hajatan. Lantunan rebana yang diiringi shalawat ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana dakwah dan wujud kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Muslim di Indonesia dan terus berkembang hingga saat ini.

Hadroh di Tempat Hajatan Menurut Islam

Sobat Cahaya Islam yang menyukai hadroh, sebaiknya mengetahui bagaimana hukum dari seni ini menurut pandangan Islam:

1. Hadhroh sebagai Sarana Syiar Islam

Hadroh di tempat hajatan memiliki makna mendalam. Saat shalawat dikumandangkan, suasana menjadi lebih khidmat dan penuh berkah. Para tamu yang hadir tidak hanya menikmati acara, tetapi juga diajak untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya. Ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” 1

Ayat ini menunjukkan bahwa bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Karena itu, hadroh bukan sekadar musik, melainkan bentuk syiar yang mengandung nilai ibadah.

2. Batasan dalam Menampilkan Hadhroh

Meski demikian, Sobat Cahaya Islam, Islam juga memberikan batasan dalam menampilkan hadroh di tempat hajatan. Pertunjukan hadroh hendaknya tidak disertai hal-hal yang bertentangan dengan syariat, seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan) atau penampilan yang berlebihan.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” 2

Ayat ini menjadi pengingat agar acara hajatan tidak menjadi ajang kemaksiatan. Maka dari itu, hadroh sebaiknya ditampilkan dengan adab Islami, busana yang sopan, serta suasana yang menumbuhkan ketenangan dan keberkahan.

3. Nilai Spiritualitas dalam Hadhroh

Sobat Cahaya Islam, hadroh di tempat hajatan juga memberikan nilai spiritualitas tinggi. Ketika shalawat dilantunkan bersama-sama, hati menjadi lebih tenang dan damai. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali lipat.” 3

Bayangkan, dalam satu acara hajatan, jika banyak orang ikut bershalawat, maka banyak pula keberkahan yang turun. Inilah sebabnya hadroh kerap dijadikan pelengkap dalam acara-acara keagamaan dan hajatan umat Islam.

Hadroh di tempat hajatan

4. Menjaga Niat dan Adab

Penting untuk diingat bahwa hadroh di lokasi hajatan bukan ajang pamer atau hiburan semata. Niat utama dari kegiatan ini adalah mengingat Allah, memperbanyak shalawat, dan mengajarkan cinta kepada Rasulullah ﷺ kepada generasi muda.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” 4

Dengan niat yang benar dan adab yang sesuai syariat, hadroh bisa menjadi media dakwah yang kuat sekaligus menjaga tradisi Islam yang penuh makna.

5. Menjaga Tradisi dengan Tetap Tunduk pada Syariat

Sobat Cahaya Islam, menjaga tradisi Islam seperti hadroh merupakan bagian dari melestarikan budaya Islam di tengah masyarakat. Namun, semua itu harus tetap dalam koridor syariat. Jangan sampai tradisi justru melenceng dan menimbulkan kemaksiatan.

Jadi, Sobat Cahaya Islam perlu memahami meskipun Hadroh di tempat hajatan merupakan kesenian islami, akan tetapi jangan sampai melupakan hal-hal lain yang mungkin saja bisa merusak tujuan dari adanya kesenian ini yaitu untuk berdakwah.


  1. (Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 56) ↩︎
  2. (Al-Qur’an Surah Al-Isra’ Ayat 32) ↩︎
  3. (Hadis HR. Muslim No. 408) ↩︎
  4. (Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat Ayat 56) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY