6 Cara Menyikapi Ikhtilaf di Tengah-tengah Umat

0
72
Cara Menyikapi Ikhtilaf

Cara Menyikapi Ikhtilaf – Ikhtilaf adalah tidak sama, tidak sepakat, perbedaan, perpecahan, perlawanan, atau benturan yang bisa menimbulkan suatu permusuhan.

Perselisihan pendapat ini biasanya terjadi di kalangan para ulama dari ijtihad-ijtihad dan niatan yang baik. Namun seringkali kita lupa bagaimana cara menyikapi ikhtilaf yang benar.

Jika kita telah mengetahui suatu hakikat dan sebab-sebab suatu perbedaan atau ikhtilaf sangat perlu sikap yang tepat untuk mengatasinya.

Ada beberapa di antara penyebab ikhtilaf adalah akal para ulama yang sering menyimpulkan ayat atau hadits multi-interpretative. Lalu adanya perbedaan informasi dan ilmu yang dimiliki oleh para ulama tersebut.

Bukan hanya itu, perbedaan lingkungan, situasi, kondisi dan cara menempatkan dalil juga mempengaruhi suatu ikhtilaf itu terjadi.

6 Cara Menyikapi Ikhtilaf di Tengah-tengah Umat

Nah, Sobat Cahaya Islam, kemudian, seperti apa cara menyikapi suatu perbedaan pandangan atau pendapat para ulama? Demikian ulasannya.

1.      Membekali Diri dengan Ilmu

Pertama, dengan membekali diri sebuah ilmu, iman, akhlak dan amal secara proporsional maka tidak akan sulit bagi kita untuk bisa menyikapi masalah dengan benar dan tepat. apalagi jika masalah itu khilafiah atau ikhtilaf.

Seperti tercermin dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya” (Ali ‘Imraan:187).

2.      Mengakui Bahwa Ikhtilaf Rahmat dari Allah SWT

Dengan memahami bahwa ikhtilaf adalah salah satu rahmat Allah SWT. Sebab seringkali kita mendengar ulasan bahwa ikhtilaf memang sudah ada sejak ulama salaf.

Cara Menyikapi Ikhtilaf

Memang seperti itulah sikap mereka, yang kemudian berlanjut hingga kini di mana para ulama ahlus sunnah wal jamaah mengikutinya.

3.      Mengikuti Pendapat yang Kuat

Ittiba’ atau mengikuti suatu pendapat yang dinilai rajih atau kuat. Tentu saja ini bisa kita lakukan setelah membandingkan berdasarkan metodologi ilmiah yang sudah diakui.

Hal ini khususnya bagi mereka yang mampu: baik dari kalangan para ulama maupun para thullabuul ‘ilmi syar’i (para penuntut ilmu syar’i).

Sebab bagi kaum muslimin yang awam, batas kemampuannya hanyalah sampai bertaqlid saja. Taqlid: mengikuti tanpa mengetahui dalilnya.

4.      Memberi Toleransi Terkait Ikhtilaf

Kita pun berkeharusan untuk mengutamakan toleransi terkait masalah-masalah yang ikhtilaf. Hal ini bersifat personal, di mana mereka memiliki kebebasan menentukan pendapat ulama mana yang kaidahnya bisa kita terapkan dalam hidup masing-masing.

Yang perlu kita pahami, masalah khilafah ini erat hubungannya dengan kemasyarakatan, keumatan, kejamaahan. Sehingga memberi toleransi suatu keyakinan pada pendapat adalah bentuk kompromi yang sepatutnya kita terapkan satu sama sain.

5.      Tidak Boleh Ghuluw

Apa itu ghuluw? Gluluw adalah sikap melebih-lebihkan secara ekstrim sehingga mengganggu keyakinan kelompok atau jamaah yang lain.

Dalam menyikapi suatu ikhtilaf, yang perlu kita garis bawahi adalah sikap yang logis, yang syar’i yang salafi (sesuai dengan manhaj dan sikap para ulama salaf).

6. Tidak Mengutamakan Prinsip Pribadi

Setiap prinsip seseorang sudah pasti berbeda satu sama lain. maka tidak perlu menjadi bahan perselisihan.

Cara Menyikapi Ikhtilaf

Sebab, kita sebagai umat Muslim seharusnya mengedepankan masalah-masalah ijma’ di atas masalah-masalah yang khilafah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku semata” (Adz- Dzariyaat: 56).

Demikian di atas merupakan ulasan mengenai cara menyikapi khilafah sebagaimana diajarkan oleh syariat Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY