Bahaya menjadikan influencer sebagai panutan – Sobat Cahaya Islam, di era media sosial seperti sekarang, kita banyak menemukan berbagai macam konten menarik setiap hari. Tidak sedikit dari kita yang mengikuti kehidupan para influencer mereka yang tampak sukses, glamor, dan penuh gaya. Namun, di balik kemilau dunia maya, ada bahaya menjadikan influencer sebagai panutan hidup yang perlu kita waspadai bersama.
Siapa Itu Influencer dan Mengapa Mereka Mudah Diidolakan?
Influencer adalah figur publik di media sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap pengikutnya. Mereka mempromosikan gaya hidup, produk, hingga pola pikir tertentu.
Tanpa disadari, banyak orang, termasuk umat Islam, mulai meniru gaya mereka: berpakaian seperti mereka, berbicara seperti mereka, dan bahkan menentukan pilihan hidup berdasarkan saran mereka.
Hal ini menjadi berbahaya saat yang kita tiru ternyata tidak sejalan dengan nilai Islam. Maka dari itu, bahaya menjadikan influencer sebagai panutan hidup tidak boleh dianggap remeh.
Bahaya Spiritual dan Sosial Meniru Influencer
Sobat Cahaya Islam, bahayanya tidak hanya dalam aspek duniawi. Lebih jauh, menjadikan influencer sebagai panutan dapat melemahkan akidah, melalaikan ibadah, dan membuat kita merasa tidak cukup dengan nikmat Allah.
Kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, merasa minder karena tidak sekaya atau secantik mereka. Dan mulai meninggalkan waktu ibadah demi scroll konten mereka. Kita bahkan rela mengeluarkan uang hanya untuk membeli produk yang belum tentu kita butuhkan, semata-mata agar tampak ‘up to date’.
Allah SWT telah memperingatkan kita dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah) hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata: ‘Wahai, sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.’ Celakalah aku! Sekiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan ketika itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat bagi manusia.” 1
Bahaya Meniru Gaya Hidup Berlebihan
Banyak influencer memamerkan gaya hidup serba mewah seperti mobil mahal, liburan mewah, makanan kelas atas. Kita yang menonton merasa ‘ketinggalan zaman’ jika tidak ikut mencoba.
Tanpa sadar, kita menjadi konsumtif dan hidup tidak sesuai kemampuan. Inilah bentuk nyata dari bahaya menjadikan influencer sebagai panutan hidup.
إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًۭا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” 2


Rasulullah ﷺ Teladan Sejati Sepanjang Masa
Jika kita mencari contoh hidup terbaik, Rasulullah-lah orangnya. Sifat beliau adalah cerminan kesempurnaan akhlak. Beliau hidup sederhana, jujur, dermawan, dan sangat mencintai umatnya.
Kita tidak akan pernah kecewa menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai panutan.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌۭ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” 3
Langkah Nyata Menghindari Bahaya Ini
Untuk menghindari bahaya menjadikan influencer sebagai panutan hidup, berikut ini beberapa langkah nyata:
1. Batasi waktu bermain media sosial.
2. Pilih konten yang positif dan Islami.
3. Kuatkan identitas diri.
4. Dekat dengan orang saleh.
5. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Sobat Cahaya Islam, kehidupan dunia hanya sementara. Jangan sampai kita tertipu oleh cahaya semu media sosial. Pilihlah panutan yang membimbing kita kepada Allah, bukan kepada kelalaian dan kesia-siaan.































