Bahaya Ghibah – Islam sangat melarang keras dosa lisan. Salah satunya adalah ghibah karena bisa merusak hubungan sesama manusia dan tentu saja membawa murka Allah. Oleh karena itu, daripada kita sibuk menggunjing orang lain, lebih baik kita merenungkan aib sendiri sehingga kita bisa instropeksi diri agar menjadi pribadi yang lebhih baik.
Fokus Memperbaiki Kekurangan Diri Sendiri


Islam mengajarkan kita untuk fokus memperbaiki diri sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain. Sayangnya, kita kerap tidak sadar akan banyaknya aib pada diri sendiri. Di sisi lain, sangat mudah untuk melihat kekurangan atau aib orang lain.
يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيهِ، وَيَنْسَى الْجِذْلَ، أَوِ الْجِذْعَ، فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
“Salah seorang dari kalian bisa melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tapi lupa dengan kayu besar di matanya sendiri.” (1)
Ada juga pepatah dalam bahasa Indonesia yang berbunyi ‘semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat’. Intinya, pesan ini mengingatkan kita semua agar lebih dulu merenungi kesalahan diri sendiri, bukannya malah sibuk mencari keasalahan orang lain. Jika kita fokus memperbaiki diri, tidak akan ada waktu terbuang untuk membicarakan aib orang lain.
Fitnah dan Ghibah Sama-sama Dosa Lisan
Suatu ketika, Rasulullah menjelaskan kepada para sahabatnya tentang ghibah, yaitu membicarakan orang lain mengenai sesuatu yang tidak ia sukai. Lalu, salah seorang sahabat bertanya bagaimana jika membicarakan orang lain tapi yang dibicarakan adalah benar adanya. Rasulullah pun memberi penjelasan:
إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Jika benar, berarti kamu meng-ghibahinya (menggunjingnya). Jika tidak benar, berarti kamu memfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (2)
Tentu saja, mau yang kita bicarakan itu benar atau tidak, tetap saja dosa. Intinya, membicarakan orang lain hanya punya dua kemungkinan, yaitu ghibah atau fitnah. Jika ghibah saja dosanya sudah sangat besar, apalagi fitnah yang dampaknya jauh lebih besar.
Bahaya Ghibah Ibarat Memakan Bangkai Orang Lain
Peringata keras tentang ghibah tidak hanya ada dalam hadits, tapi juga Al-Qur’an, di mana Allah berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ
“Dan jangan menggunjing satu sama lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (3)
Bukan hanya melarang, tapi ayat ini juga menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah. Bahkan, Allah mengibaratkannya seperti makan bangkai orang lain. Tentu saja, semua ulama sepakat akan haramnya perbuatan ghibah sehingga kita harus benar-benar menjauhinya.
Dampak ghibah sangat besar karena dapat menciptakan citra buruk bagi orang lain. Bahkan, perbuatan ini bisa berdampak pada psikologi orang lain. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak usah sibuk dengan kekurangan orang lain. Setiap orang punya aib masing-masing sehingga lebih baik kita merenungkan aib sendiri untuk instrpeksi diri menjadi seorang mukmin yang lebih baik lagi ke depannya.
Referensi:
(1) Al-Adanb Al-Mufrad 592
(2) Sunan Abi Dawud 4874
(3) Q.S. Al-Hujurat 12
































