Pegawai yang Amanah – Sebagai umat muslim, kita harus mewujudkan ketakwaan kita kepada Allah. Bukan hanya dalam bentuk ibadah, melainkan juga dakan menjalankan amanah atau tanggung jawab, termasuk dalam bekerja. Dengan menjadi karyawan yang amanah, maka rezeki pun jadi berkah. Syaratnya, seorang pekerja harus memperhatikan setidaknya tiga poin penting di bawah ini.
Bekerja dengan Menunaikan Amanah Sebaik Mungkin
Melakukan pekerjaan dengan baik dan sungguh-sungguh berari menunaikan amanah. Dalam hal ini, Allah memerintahkan kita:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ
“Sungguh Allah memerintahkan kepada kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak.” (1)
Misalnya, ada seseorang yang memegang amanah sebagai bendahara. Kemudian, ia bertanggung jawab menjaga amanahnya dengan baik. Jika uangnya untuk kebaikan, ia pun akan ikut memperoleh pahala sedekah. Oleh karena itu, apapun jabatan atau tanggung jawab yang kita emban, hendaknya kita menunaikan amanat tersebut sebaik mungkin.
Pentingnya Menjadi Pekerja yang Kuat dan Amanah
Ketika Nabi Musa pergi ke negeri Madyan, beliau bertemu 2 orang wanita yang kesulitan memberi minum ke ternak mereka. Lalu, Nabi Musa pun membantu mereka, hingga salah satu wanita tersebut menyuruh kepada ayahnya, yang ceritanya diabadikan dalam ayat Al-Qur’an:
قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
“Salah seorang dari wanita itu berkata: ‘Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Sungguh orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (2)
Dalam konteks ayat di atas, memang Nabi Musa membantu kedua wanita itu untuk memberi minum ternak, di mana memang pekerjaan tersebut butuh kekuatan dan kejujuran. Namun, kedua sifat ini juga diperlukan dalam berbagai profesi nyata di zaman sekarang ini, seperti guru, pekerja proyek konstruksi, dan aparatur Negara.
Pegawai yang Amanah Tidak Menerima Suap


Saat ini, banyak sekali terjadi penerimaan suap berkedok hadiah bagi pegawai, terlebih pejabat Negara. Tentu saja, ini adalah sebuah penghianatan dan Rasulullah sangat melarang tindakan tersebut. Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِ
“Rasulullah melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (3)
Penting bagi setiap umat muslim bahwa setiap hadiah yang didapatkan secara tidak sah kelak akan menjadi beban (siksa) di akhirat. Oleh karena itu, hendaknya setiap umat muslim menolah segala bentuk hadiah yang bertujuan untuk menyuap karena alasan tertentu. Jika menerimanya, maka bersiaplah untuk mendapatkan adzab dari Allah di neraka.
Referensi:
(1) Q.S. An-Nisa 58
(2) Q.S. Al-Qashash 26
(3) Sunan Abi Dawud 3580
































