Adab menggunakan AI – Kecerdasan buatan menjadi salah satu inovasi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Lalu, bagaimana adab menggunakan AI dalam Islam? Pasalnya, perkembangan pesat AI telah mempengaruhi seluruh lini kehidupan manusia, mulai dari kesehatan hingga interaksi sosial.
Perkembangan Kecerdasan Buatan
Salah satu bukti nyata perkembangan AI yaitu dengan kemunculan aplikasi ChatGPT. Kemunculannya pada 2022 lalu telah mengubah kehidupan manusia di berbagai bidang. Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam mengerjakan pekerjaan administratif, analisa penyakit hingga memberi materi pembelajaran adaptif.
Sayangnya, pelajar SD hingga mahasiswa keliru memanfaatkan kemampuan kecerdasan buatan ini. Peserta didik kerap menggunakan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas-tugas tanpa melibatkan pemikiran dan usaha sendiri. Lantas bagaimana Sobat menyikapi hukum AI dalam Islam?
Padahal seharusnya kecerdasan buatan membantu Sobat lebih produktif dan kreatif. Perlu Sobat pahami bahwa nikmat yang Allah berikan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana ayat berikut ini:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” 1
Adab Menggunakan AI dari Sudut Pandang Islam
Meskipun AI memberikan banyak manfaat, namun muncul kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan ini dapat mengganggu nilai-nilai kemanusiaan. Dehumanisasi dan pengambilan keputusan tanpa mempertimbangkan moral tentunya bertentangan dengan hukum Islam.
Cepatnya perkembangan teknologi, penting untuk Sobat nilai apakah penerapan AI sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dalam aspek memahami adab menggunakan AI dalam ajaran Islam harus mengkaji berbagai aspek berikut ini:
1. Manusia dan Kemuliaannya dalam Islam
Dalam ajaran Islam telah menekankan bahwa manusia merupakan makhluk paling mulia di antara ciptaan Allah. Sebab manusia memiliki kemampuan berpikir, merenung, dan memilih. Kemuliaan manusia memberi hak dan kewajiban agar bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Berikut ini kajian AI menurut pandangan ulama:
- AI tidak memiliki ruh dan jiwa, padahal manusia memiliki kedua hal itu. Oleh karena itu, kecerdasan buatan tidak memiliki kesadaran yang mengarah pada AI tidak bisa menjadi agen moral.
- Tugas manusia sebagai khalifah di bumi berarti berkewajiban mengelola SDA dan teknologi demi kebaikan umat manusia itu sendiri.
2. Etika Penggunaan Teknologi dalam Islam
Adab menggunakan AI berkaitan dengan ajaran Islam yang menekankan penggunaan teknologi bermanfaat dan tidak merugikan manusia. Kecerdasan buatan sebagai teknologi harus menjalankan fungsi sebagai alat yang dapat Sobat gunakan untuk kebaikan. Namun, kecerdasan buatan ternyata membawa pertanyaan mengenai:
- Islam mengajarkan keadilan dalam segala aspek, termasuk AI harus digunakan sebagai pendukung keadilan sosial.
- Privasi dalam Islam memiliki kedudukan tinggi dan menjadi isu utama setelah penggunaan kecerdasan buatan untuk mengumpulkan data pribadi.


Untuk mewujudkan penggunaan kecerdasan buatan dalam Al Qur’an, maka penggunaannya harus memiliki regulasi yang jelas. Hal ini guna memastikan bahwa data pribadi yang AI kumpulkan tidak disalahgunakan. Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan harus mencegah kemungkaran dan mempromosikan kebaikan.
3. Tantangan Moral dan Etika Saat Menggunakan AI
Tantangan besar yang umat Islam hadapi yaitu dampak moralitas dalam pengambilan keputusan dari sebuah mesin. Adab menggunakan AI harus tidak bertentangan dengan hadits berikut ini:
“Manusia yang paling pedih azabnya pada hari kiamat adalah orang yang berusaha menyaingi ciptaan Allah.” 2
Pada dasarnya adab menggunakan AI tidak bertentangan dengan ajaran Islam, asalkan Sobat bisa menggunakannya dengan bijak. Sebagai alat, kecerdasan buatan hanya berfungsi sebagai sarana agar kehidupan umat manusia semakin maju.































