4 Hikmah yang Bisa Sobat Ambil dari Kisah Bilal bin Rabbah

0
8507
Bilal bin Rabbah

Bilal bin Rabbah – Sobat pasti sudah tidak asing lagi dengan Bilal bin Rabbah, seorang muadzin dengan suara paling merdu. Tidak hanya itu ia merupakan orang pertama yang mengumandangkan adzan dan menyeru orang-orang untuk sholat atas perintah Rasulullah.

Selain kisah terkenal tersebut, ia juga memiliki kisah hidup yang luar biasa. Cobaan semasa hidupnya sungguh luar biasa karena mampu mempertahakan keimannya di depan sang majikan, sebelum menjadi budak merdeka.

Bilal sendiri lahir di as-Sarah, kurang lebih 43 tahun sebelum Hijriyah. Ayahnya bernama Rabbah dan ibunya bernama Hamamah, merupakan seoarng budak berkulit hitam dan tinggal di Mekkah.

Perjalanan hidup selama menjadi budak dan cobaan lainnya membuktikan betapa kuatnya keimanan yang dimiliki Bilal. Sehingga Sobat perlu memetik hikmah dari kisah tersebut, untuk meningkatkan rasa syukur dan keimanan.

Hikmah Kisah Bilal bin Rabbah

Mengambil hikmah dari setiap kisah sahabat nabi dan kisah-kisah orang sholeh, agar bisa membuat kita lebih dekat kepada Allah juga Rasulullah. Berikut inilah hikmah yang dapat Sobat ambil melalui kisah Bilal bin Rabbah.

1. Memiliki pendirian yang teguh

Bilal masuk kedalam agama islam, sejak masih menjadi budak Bani Jumal di Mekkah. Ketika majikannya tahu kabar tersebut, Bilal disiksa berulang kali oleh majikannya. Bahkan ia sampai meminta Bilal untuk meninggalkan agama Islam dan kembali dengan orang Quraisy.

Tapi Bilal menolak hal tersebut, sehingga mmebuat majkannya Umayyah semakin meradang. Ia menyiksa Bilal dengan batu panas tapi tetap saja Bilal teguh dengan Islam.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. [al-Hujurât/49:13]

2. Sabar dan tabah

Hikmah yang dapat Sobat ambil dan teladani selanjutnya, Bilal merupakan seorang yang tabah dan sangat penyabar. Terbukti setelah disiksa dengan batu panas, ia pernah diseret ke tengah padang pasir dan mendapatkan siksaan lagi.

Bahkan setelah mendapat siksaan berulang kali dan hampir merenggut nyawa, Bilal tetap bersikap tenang, sabar dan tabah.

Bilal bin Rabbah

Hingga kesabarannya membuahkan hasil. Saat penyiksaan berlangsung, Abu Bakar melihatnya dan membeli Bilal sehingga menjadikannya budak merdeka.

“Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469).

Serta Firman Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

3. Setia kepada Rasulullah

Setelah merdeka, Bilal mengabdikan hidupnya kepada Allah dan Rasulullah. Kemanapun  Rasul pergi, ia senantiasa berada dekat dengan Rasulullah. Oleh karena itu, para sahabat lainnya juga memuliakan dan menghormati Bilal.

4. Muadzin pertama

Setelah kaum Muslimin hijrah dan menetap di Madinah, Rasullah mengisyratkan adzan sebagai seruan sholat. Nabi Muhammad menunjuk Bilal untuk melantukan adzan pertama kaum muslim.

Kemudian ia mengumandangkan adzan dengan merdu, khidmat, dan empuk sehingga membuat masyarakat Arab tertegun mendengarnya. Bilal mampu menghadirikan keimanan dan keharuan bagi muslim lainnya selama mendengar suaranya.

Bilal bin Rabbah

Ia merupakan muadzin pertama dalam sejarah islam. Membuatnya dikenal sebagai sahabat Rasulullah dengan suara yang merdu. Masyarakat Arab tidak pernah sekalipun bosan mendengar adzan tersebut. Sampai orang-orang banyak yang tertarik untuk sholat di tempat Bilal adzan.

Hikmah-hikmah di atas mengajarkan kita, bahwa keimanan dan keyakinan kuat tidak akan pernah goyah. Meskipun disiksa berkali-kali sampai hampir kehilangan nyawa, tapi tetap Bilal bin Rabbah berpegang pada islam dan taat pada Allah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY