Wajibkah Suami Memuaskan Istri – Salah satu tujuan pernikahan adalah agar pasangan suami istri bisa menyalurkan syahwatnya secara halal. Maka dari itu, baik suami maupun istri berhak mendapatkan kepuasan ketika berhubungan intim. Jika demikian, apakah suami wajib memuaskan istrinya ketika bercinta? Dan jika suami tidak bisa memuaskan istrinya, apakah ia berdosa?
Wajibkah Suami Memuaskan Istri? Ini Dalilnya!
Berbicara masalah ini, dalil pokonya adalah firman Allah dalam Al-Qur’an pada ayat di bawah ini:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ
“Sang istri punya hak (yang harus dipenuhi suami) sebagaimana kewajiban yang harus dia penuhi untuk suaminya.” (1)
Kita semua tahu bahwa setiap suami pasti ingin mendapatkan kepuasan saat berhubungan badan dengan istri. Demikian juga istri, ia berhak mendapatkan kepuasan yang sama sebagaimana sang suami. Maka, masing-masing punya hak dan kewajiban seimbang.
Memang, pada umumnya laki-laki lebih mudah mencapai klimaks ketika berhubungan suami-istri. Tapi sebagai suami, laki-laki tidak boleh egois dengan hanya memikirkan kepuasannya sendiri. Di sisi lain, banyak istri yang rela menahan kekecewaan karena suami tidak dapat memuaskannya.
Oleh karena itu, suami harus berusaha memuaskan istrinya. Misalnya dengan pemanasan (foreplay) sebelum bersenggama, menggunakan obat kuat yang aman untuk kesehatan, berolahraga untuk menambah stamina, dll.
Hukum Memuaskan Istri bagi Suami


Bagi pasangan suami istri, penting untuk memberikan yang terbaik untuk pasangannya ketika berhubungan intim. Ketika seorang suami ejakulasi terlebih dahulu, hal ini bisa memicu konflik. Padahal, seorang istri juga menginginkan kepuasan ketika berada di ranjang. Masalahnya, kebanyakan dari mereka malu untuk mengungkapkannya.
Menurut para ulama, jika suami terlebih dahulu mencapai puncak kenikmatan sebelum istrinya, makruh baginya untuk melepaskan kemaluannya sebelum sang istri menuntaskan syahwatnya. Maka dari itu, hendaknya suami menggauli istrinya dengan memberikan servis terbaik dan penuh kasih sayang.
Maka, kesimpulan hukumnya adalah bahwa suami harus memuaskan istrinya di atas ranjang, jika memungkinkan. Bahkan, mengecewakan istri ketika berhubungan intim hukumnya makruh menurut para ulama. Di sinilah pentingnya keperkasaan suami untuk menghindari percekcokan dan konflik dengan istri akibat tidak terpuaskannya pasangan.
Semangat Memanjakan Istri di Atas Ranjang
Ketika di atas ranjang, seorang suami harus memperlakukan istrinya bak ratu. Agar tahu apa yang istri mau, lakukan komunikasi dengan baik! Jika memang perlu, suami istri juga bisa berkonsultasi kepada ahlinya (dokter, misalnya) agar sama-sama mendapatkan kepuasan batin.
Sebagaimana suami mungkin akan tertarik dengan perempuan lain jika tidak pyas dengan istrinya, demikian juga istri bisa jadi tertarik dengan lelaki lain jika tidak puas dengan suaminya. Agar hal ini tidak terjadi, masing-masing pasangan harus berusaha memperbaiki diri dan memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Memang, tidak berdosa jika seorang suami tidak dapat memuaskan istrinya ketika bersenggama. Tapi, ia tetap harus berusaha memperbaiki diri agar ke depannya dapat memberikan yang lebih baik bagi pasangannya.
Referensi:
(1) Q.S. Al-Baqarah 228
































