Virus influenza – Lonjakan virus influenza untuk varian subclade K atau biasa disebut super flu tengah menjadi sorotan di beberapa negara, seperti AS, Inggris hingga Jepang. Sementara itu, sejak akhir 2025 tercatat 62 kasus super flu di Indonesia. Bagaimana Islam memandang kehadiran wabah ini? Apakah menjaga kebersihan saja cukup?
Virus Influenza Varian Subclade K Masuk Indonesia
Penularan cepat virus influenza subclade K sangat cepat dan gejalanya mirip dengan flu musiman, seperti batuk, pilek, hingga demam tinggi. Untuk mengantisipasi virus ini, Tjandra Yoga Aditama selaku Ketua Majelis Kehormatan PDPI menyatakan bahwa virus ini sudah lama, namun bermutasi.
Awalnya, virus ini terdeteksi di Amerika Serikat sejak Agustus 2025 lalu. WHO menyebut bahwa Super Flu bermula dari virus influenza yang dominan, sehingga menyebabkan penularan yang tinggi. Kasus cepatnya penyebaran juga mendapatkan pengaruh geografis, terutama negara yang berada di garis khatulistiwa dengan empat musim.
Pandangan Islam Terhadap Wabah Penyakit Menular
Wabah penyakit seperti Super Flu bukan merupakan peristiwa baru. Sejarah mencatat bahwa tahun 1720 telah terjadi wabah penyakit yang membunuh 30 persen penduduk Prancis. Pada zaman Nabi Muhammad juga pernah terjadi wabah penyakit Thaun sebagaimana hadits berikut:
“Tha’un (penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu menjangkiti suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya” (HR.Bukhari dan Muslim nomor 2218).
Dalam pandangan Islam, musibah alam maupun non alam seperti wabah penyakit merupakan ketentuan Allah untuk menguji kesabaran manusia. Sebab, semua hal yang terjadi di muka bumi merupakan ketentuan dari Allah. Hadirnya ketetapan Allah mengingatkan manusia agar tidak angkuh.
Musibah dari Allah menjadi tidak ada artinya di hadapan Allah. Sebelum terjadi wabah penyakit, banyak manusia merasa jumawa dan merasa semua bisa dilakukan. Namun saat Allah menurunkan wabah berupa virus menular, manusia baru saja menyadari bahwa Allah memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Hikmah datangnya wabah mengingatkan Sobat semua bahwa manusia merupakan makhluk lemah dan serba terbatas. Islam mengajarkan bagaimana cara seorang Muslim menerima musibah. Menerima musibah dengan kesabaran merupakan bentuk keimanan atas kekuasaan Allah seraya berusaha mencegah penyebarannya.
Tafsir dan Penerapan Hadits Kebersihan
Virus influenza yang saat ini terjadi dapat Sobat cegah dengan menerapkan hadits kebersihan. Hakekatnya, kebersihan merupakan sebagian dari Iman. Rasulullah menegaskan bahwa kebersihan tak hanya soal fisik, melainkan juga bagian dari keimanan seorang muslim. Berikut ini tiga makna kebersihan dalam sudut pandang Islam:
1.Kebersihan dalam Makna Ibadah
Kebersihan erat kaitannya dengan ibadah, wudhu, mandi janabah hingga menjaga kesucian pakaian merupakan syarat sahnya ibadah. Kebersihan dalam Islam menegaskan seorang Muslim tak bisa melaksanakan shalat tanpa menjaga kebersihan.
Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya selalu berpakaian bersih sebagaimana ayat:
“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (Surah Al Muddatstsir ayat 4)
2. Kebersihan Bentuk Ketaatan
Setiap muslim yang bisa menjaga kebersihan, maka sama halnya dengan menjalankan sunnah Rasulullah. Sama halnya dengan menjaga kebersihan demi mencegah dari virus influenza.


3. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan
Ilmu kedokteran sejalan dengan pesan hadits kebersihan lantaran banyak penyakit menyebar akibat kebersihan yang buruk. Islam mendahului pengetahuan ini dan menjadikan kebersihan sebagai kewajiban sebelum menjadi ilmu pengetahuan. Maraknya virus influenza jenis baru memang wajib Sobat waspadai. Melalui penerapan kebersihan di setiap lini kehidupan, kesehatan akan selalu terjaga. Terlebih lagi, wabah virus yang hadir merupakan kehendak Allah.
































