Ujian Berupa Nikmat Sering Membuat Lengah

1
492
Ujian Berupa Nikmat Ujian Hidup

Ujian Berupa Nikmat – Sobat Cahaya Islam, sebagian besar dari kita mengira bahwa ujian hanya datang dalam bentuk kesulitan, seperti musibah, sakit, atau kehilangan harta. Padahal, dalam pandangan Islam, nikmat yang kita terima juga bisa menjadi ujian. Bahkan, ujian berupa kelapangan terkadang lebih berat daripada ujian berupa kesempitan. Mengapa demikian? Mari kita telusuri jawabannya.

Nikmat: Anugerah atau Perangkap?

Allah ﷻ mencurahkan banyak nikmat kepada manusia. Di antara nikmat itu ada harta, kesehatan, pangkat, popularitas, keluarga, hingga waktu luang. Namun, tidak semua orang mampu memaknai nikmat dengan benar. Ada yang menjadikan nikmat sebagai sarana untuk semakin taat, tapi ada pula yang menjadikannya sebab kelalaian.

Allah ﷻ berfirman:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kalian akan dikembalikan.” (1)

Sobat Cahaya Islam, ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan (al-khayr) seperti nikmat duniawi pun bagian dari ujian. Ketika seseorang mendapatkan kekayaan, Allah sedang melihat: apakah ia bersyukur atau kufur? Apakah ia menggunakannya untuk jalan Allah atau untuk memuaskan hawa nafsu?

Syukur: Kunci Lulus dari Ujian Berupa Nikmat

Tidak semua orang mampu bersyukur saat mendapat nikmat. Ada yang langsung terjerumus ke dalam kesombongan, merasa semua pencapaian adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, hakikat syukur adalah menyandarkan segala kebaikan kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada yang di atas kalian. Itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (2)

Sobat Cahaya Islam, syukur tidak hanya berupa ucapan alhamdulillah, tapi juga tindakan nyata. Jika Allah memberi kita rezeki lebih, maka gunakanlah untuk membantu yang kesulitan. Jika diberi ilmu, maka ajarkan kepada yang belum tahu. Inilah bentuk syukur yang akan menyelamatkan kita dari ujian nikmat.

Ketika Nikmat Menjerumuskan

Sayangnya, banyak orang yang justru tersesat setelah diberi nikmat. Mereka lupa diri, meninggalkan salat, hidup mewah tanpa peduli halal-haram, dan menganggap dunia adalah segalanya. Allah ﷻ telah mengingatkan:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۝ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia, ketika Rabb-nya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya nikmat, ia berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, ia berkata: ‘Rabbku telah menghinakanku.'” (3)

Sobat Cahaya Islam, pemahaman seperti ini keliru. Banyak orang yang Allah beri nikmat justru sebagai istidraj – yaitu pemberian yang menipu agar manusia makin lalai hingga akhirnya dibinasakan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika kamu melihat Allah memberi seseorang kenikmatan dunia padahal ia terus bermaksiat, maka itu adalah istidraj dari-Nya.” (4)

Sobat Cahaya Islam, jangan anggap nikmat selalu berarti ridha Allah. Lihatlah bagaimana kita menyikapi nikmat tersebut. Apakah semakin dekat atau justru menjauh dari-Nya? Jangan sampai nikmat menjadi tirai yang menutup hati dari cahaya iman. Ingatlah, setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya kesulitan.


Referensi:

(1) QS. Al-Anbiyā’: 35

(2) HR. Bukhari no. 6490

(3) QS. Al-Fajr: 15–16

(4) HR. Ahmad no. 17311

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY