Tolong Menolong dalam Kebaikan – Agama Islam punya 2 unsur penting, yaitu meninggalkan kemaksiatan dan menjalankan ketaatan. Dari dua hal ini, meninggalkan larangan lebih berat karena hanya orang-orang yang mencari ridha Allah-lah yang mampu melakukannya.Di sisi lain, Islam juga mengajarkan untuk saling menolong dalam hal kebaikan, bukan malah sebaliknya. Mirisnya, di zaman akhir ini banyak orang yang bersekongkol untuk melakukan keburukan atau kemaksiatan.
Tolong Menolong dalam Kebaikan dan Dalilnya
Saat ini, maksiat semakin merajalela. Bahkan, banyak oknum yang justru melindunginya. Maka, tugas kita adalah menjaga diri dan keluarga dari segala larangan Allah. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (1)
Jadi, jelas bahwa Allah memerintahkan kita semua untuk tolong-menolong dalam berbuat baik dan bertakwa. Tak hanya itu, Allah juga melarang kita untuk mendukung atau membantu perbuatan dosa. Pasalnya, baik yang berbuat maksiat ataupun hanya sekedar membantunya sama-sama mendapatkan dosa besar.
Konsekuensi Tolong-menolong dalam Perbuatan Dosa


Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, entah itu dosa maupun pahala. Rasulullah bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kebaikan, ia mendapat pahala seperti yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka. Siapa yang mengajak kesesatan, ia mendapat dosa seperti yang mengikuinyam tanpa mengurangi dosa mereka.” (2)
Mirisnya, banyak orang menganggap kemaksiatan sebagai sesuatu yang biasa seperti hiburan malam. Kita sebagai umat muslim harus sadar bahwa Allah melarang sesuatu untuk menjaga hamba-Nya dari kehancuran seperti larangan berjudi dan minum khamar.
Sayangnya, realitasnya sangat memprihatinkan karena judi dan minuman keras ada di mana-mana dan semakin menjamur. Lebih parahnya lagi, juni online menjadi tren baru bagi para pemuda masa kini. Kita semua umat muslim bertanggung jawab dan harus berperan aktif menekan dan memberantas praktik-praktik ini sesuai kemampuan masing-masing.
Akibat Membiarkan Kemaksiatan
Di antara akibat terburuk membiarkan perbuatan dosa ialah berkurangnya rezeki, sebagaimana sabda Nabi:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sungguh seorang hamba akan terhalang rezekinya sebab dosa yang ia perbuat.” (3)
Namun, kita perlu ingat bahwa berkurangnya rezeki bukan hanya berkaitan dengan materi seperti uang tapi bisa juga kaitannya dengan keberkahan. Uang banyak dari hasil maksiat tidak akan berkah sehingga pemiliknya tidak akan tenang dan bisa saja uangnya cepat habis.
Lebih lagi, seseorang yang melakukan maksiat terus-menerus lama-kelamaan akan terbiasa dengan kemaksiatan. Ia pun akan menganggap kemaksiatan tersebut sebagai perkara yang wajar. Jika ini terjadi, ia akan terjerumus ke dalam dosa-dosa lain tanpa ia sadari.
Referensi:
(1) Q.S. Al-Maidah 2
(2) Sunan Abi Dawud 4609
(3) H.R. Ahmad 5:277































