Syirkah Adalah Akad Kerjasama dalam Islam, Yuk Pahami Hukum dan Rukunnya

0
272
Syirkah adalah

Syirkah adalah – Dalam berbagai literatur ekonomi Islam, salah satu pembahasan inti yakni urgensitas untuk memahami syirkah adalah akad kerjasama. Tentu saja polanya berbeda dengan kerjasama yang dilakukan secara umum.

Sobat Cahaya Islam, syirkah adalah akad kerjasama yang menjadi jalan bagi umat untuk bertransaksi secara syar’i. Hal ini tentu menjadikan Islam layak menjadi agama sekaligus pedoman kehidupan bagi kaum muslimin. 

Syirkah Adalah Akad Kerjasama yang Syar’i

Syirkah adalah akad kerjasama atau dalam padanan katanya juga bisa disebut syarikah. Menurut terminologi bahasa arab, syirkah atau syarikah berarti bercampur.

Sedangkan berdasar istilah, ketetapan atau tetapnya hak bagi dua pihak maupun lebih pada suatu kepemilikan.

Dalam kitab Mughni – Al Muhtaj, syarikah merupakan suatu kepemilikan hak bisa jadi berupa kerjasama dalam usaha atau sekedar kepemilikan suatu benda.

Dimana kerjasama usaha maupun kepemilikan benda tersebut disepakati oleh kedua pihak baik dengan pembagian sama rata maupun menggunakan persentase tertentu.

Syirkah adalah

Menurut ulama’ masyhur, hukum pelaksanaan syirkah adalah mubah berdasar dalil dari Alqur’an, As Sunnah maupun Ijma’. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat An Nisa ayat 12 yakni :

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ

Artinya : Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.

Pun juga sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radiyallahu ‘anhuma, ia berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا خَرَجَ مِنْهَا مِنْ زَرْعٍ أَوْ ثَمَرٍ

Artinya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempekerjakan penduduk Khaibar (orang-orang Yahudi) dengan mendapat bagian dari hasil panen tanaman dan buah. (HR. Muslim, no. 1551)

Sedangkan rukunnya, ada 3 hal yang harus diperhatikan. Yakni eksistensi kedua belah pihak yang berakad, dua harta dan shighah (lafaz akad).

Ilmu tentang syirkah juga perlu dipahami umat agar tidak sampai terjerumus pada jurang kemaksiatan di ranah aktivitas transaksi muamalah. Keharusan umat dalam mencari ilmu, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Mujadilah ayat 11 yakni :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Mengenal Jenis dan Syarat Syirkah dalam Islam

Dalam penerapannya, syirkah terdiri dari dua macam. Diantaranya yakni :

1.    Penerapan Syirkah Hak Milik

Syirkah hak milik merupakan persekutuan dari dua orang atau bisa lebih dalam salah satu kepemilikan barang dengan salah satu sebab kepemilikan juga. Misalnya, hal ini bisa dilakukan dalam aktivitas transaksi jual beli, hibah maupun warisan.

2.    Penerapan Syirkah Transaksional

Syirkah adalah

Kemudian selanjutnya yakni syirkah transaksional. Syirkah ini terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, syirkatul abdan (syirkah usaha).

Syirkah ini merupakan bentuk kerjasam antara dua pihak maupun ebih pada usaha yang dilakukan bersama.

Misal kerjasama dalam hal sesama dokter yang ada di klinik. Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai syirkah tersebut. Namun, mahdzab Syafi’i mengharamkannya.

Kedua, syirkatul mufawadhah. Selanjutnya yakni syirkah yang berkaitan dengan kerja sekaligus kerugian kan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak. Syirkah ini berarti melibatkan harta dan badan.

Beberapa ulama’ membolehkannya, namun mahdzab Syafi’i mengharamkan dengan alasan yang sama sebagaimana syirkah abdan.

Ketiga, syirkatul wujuh. Merupakan kerjasama antara dua pihak atau lebih dalam hal keuntungan dari yang dibeli dengan kehormatan atau nama baik mereka.

Syirkah ini tidak mengharuskan kedua belah pihak memiliki modal. Hanya saja, memiliki kehormatan di mata masyarakat.

Metodenya, kedua belah pihak membeli suatu barang untuk dijual kembali dan keuntungannya dibagi bersama.

Nah Sobat Cahaya Islam, demikian ulasan yang berkaitan dengan syirkah adalah akad kerjasama dan penjelasan mengenai jenisnya.

Semoga ulasannya bermanfaat bagi umat agar dapat terus berpedoman untuk menggunakan syirkah yang syar’i.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY