Sri Wahyumi Ditangkap Lagi? Pentingnya Menjadikan Islam sebagai Landasan Hidup

0
121
Sri Wahyumi

Sri Wahyumi – Beberapa hari yang lalu, media di Indonesia digemparkan oleh kasus penangkapan Sri Wahyumi. Wanita ini adalah eks Bupati di wilayah kepulauan Talaud. Sebelumnya, dirinya pernah ditangkap karena kasus suap hingga akhirnya dibebaskan. Namun, belum lama ini dirinya ditangkap kembali oleh KPK.

Sobat Cahaya Islam, kasus Sri Wahyumi yang terjerat dalam beberapa masaah bukan terjadi kali ini saja. Sebelumnya, sudah banyak oknum pejabat ditangkap dan akhirnya mendekap di penjara. Seharusnya hal ini menjadi evaluasi besar bagi negeri. Sebagian besar aset negara dihabiskan oleh kasus serupa sehingga menyisakan luka bagi masyarakat menengah ke bawah.

Bagaimana Seharusnya Umat Menyikapi Kasus Semacam Sri Wahyumi?

Terlepas dari kesadaran atau tidak atas tindakannya, Sri Wahyumi tetaplah perlu diproses secara hukum. Hanya saja, sebagai umat muslim tentunya harus bersikap lemah lembut terhadap sesama. Pasalnya, wanita tersebut juga seorang manusia biasa yang tidak terlepas dari alpa. Sehingga, sudah selayaknya kaum muslimin memaafkan atas tindakannya bukan malah menghakimi.

Fakta yang terjadi, sebagian umat muslim kerapkali menghakimi sesamanya lantaran karena mengkorupsi uang negara atau semisalnya. Tentu hal ini tidak dibenarkan dalam Islam. Perbuatannya boleh dibenci, namun secara personal harus tetap ada ikatan aqidah antar sesama muslim.

Selain itu, ketika tersangka telah melakukan pertaubatan sebagian besar umat tetap memberikan stigma negatif terhadap tersangka tersebut bahkan beserta keluarganya. Hal tersebut tentu sangat dibenci oleh Allah SWT. Bahkan derajat si penghina lebih rendah dibandingkan yang dihina. Sungguh suatu ironi.

Faktor Apa yang Menjadikan Umat Mudah Terjerumus dalam Masalah Serupa?

Terdapat beberapa faktor yang menjadikan manusia terjebak atau bahkan dengan sadar masuk dalam arus penggelapan uang negara. Salah satu faktor utama yakni :

1. Kurang Kuatnya Aqidah Islam

Sri Wahyumi

Hal pertama yang perlu diperhatikan yakni terkait aqidah di dalam seorang muslim. Landasan ini penting untuk dicek, karena menjadi tumpuan utama aktivitas seorang muslim. Jika aqidahnya kuat, dihadapkan dengan masalah apapun pastilah muslim akan mampu bersabar atasnya.

Namun, penurunan aqidah dalam diri seseorang tidak boleh disalahkan hanya pada personal tersebut. Pasalnya, seseorang bisa saja sudah berusaha dengan keras menguatkan Aqidah dalam diri secara maksimal.

Hanya saja, di tengah perjalanan terdapat rintangan dari lingkungan itu sekitarnya. Selain lingkungan, terdapat juga kolega bahkan keluarga yang tak mendukung suasana keimanan. Tentu hal ini akan menjadikan kadar keimanan seseorang menurun secara drastis.

2. Menolak Penerapan Syariat

Sri Wahyumi

Selain itu, dampak dari penurunan aqidah dalam diri seseorang, akan menyebabkan seorang muslim secara tidak sadar atau bahkan sadar menolak aturan syariat yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Misalnya saja terkait dengan riba dan penggelapan uang. Keduanya diharamkan secara mutlak tanpa kompromi. Namun, faktanya hari ini malah sebagian besar umat merasa wajar dengan kehadiran riba di tengah – tengah mereka.

Kewajiban akan penerapan syariat sesuai dengan Firman Allah Ta’ala dalam surat Yusuf ayat 40 yakni :

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40).

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah beberapa ulasan mengenai kasus Sri Wahyumi dan keterkaitan Islam sebagai pandangan hidup muslimin. Sudah seharusnya, Islam menjadi satu – satunya solusi dari berbagai masalah muslimin hari ini. Semoga kasus ini merupakan kasus terakhir sehingga tak banyak lagi masyarakat yang dirugikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY