Qaulan sadidan dalam komunikasi Islam artinya suatu pembicaraan yang tidak berbelit-belit, jujur, dan tidak bohong. Kata qaulan sadidan ini juga telah disebutkan dua kali dalam surah Al-Quran.
Pertama, Allah telah menyuruh manusia untuk menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan. Kedua, Allah juga sebenarnya memerintahkan qaulan sadidan sesudah bertakwa dengannya.
Qaulan Sadidan dalam Komunikasi Islam
Alfred Korzybski, peletak dasar teori general semantics ini telah menyatakan bahwa penyakit jiwa, baik individual maupun sosial, timbul karena penggunaan bahasa yang tidak benar.
Terdapat beberapa cara menutup kebenaran dengan menggunakan Qaulan sadidan dalam komunikasi Islam, antara lain:
1. Menggunakan Kata Abstrak dan Ambigu
Pertama, bisa dengan menggunakan kata-kata yang sangat abstrak, atau ambigu. Selain itu, menimbulkan penafsiran yang sangat berlainan apabila tidak setuju dengan pandangan kawan kita.
2. Menciptakan Makna Lain
Kedua, dapat menciptakan istilah yang diberi makna lain berupa eufimisme atau pemutarbalikan makna. Hal ini terjadi bila kata-kata yang digunakan sudah diberi makna yang sama sekali bertentangan dengan makna lazim.
“Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida–perkataan yang benar.” 1


3. Makna dari Qaulan Sadidan
Qaulan Sadidan berarti pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik itu dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Apabila dilihat dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong.
Selain itu, tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.
“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” 2
Nabi SAW bersabda
“Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran (shidqi) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga.” 3
At-Tabari mengungkapkan bahwa qaulan sadida tersebut perkataan yang adil. Prinsip qaulan sadida juga sudah ada dalam surat Al-Ahzab ayat 70:
أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” 4
Dalam ayat ini, Buya Hamka juga berkata bahwa ungkapan tersebut bermakna ucapan tepat yang timbul dari hati bersih. Sebab, ucapan adalah gambaran dari apa yang ada di dalam hati.
Apabila perkataan yang benar itu adalah tentang kalamullah. Tentu, kalam Rasul SAW dan para ulama akan menyampaikan pesan-pesan kehidupan saat berkomunikasi.
Jadi, Sobat Cahaya Islam akan memiliki pondasi-pondasi yang kokoh dalam kaidah berpikir, yaitu pondasi aqidah Islam.
Agar bisa konsisten dalam mengimplementasikan prinsip berkomunikasi qaulan sadida, mKa harus memiliki kesadaran ruhiyyah saat berbicara. Hal ini senantiasa didorong keimanan. Selain itu, juga harus bisa menjaga aqidahnya tetap lurus dan bersih penuh keikhlasan.
Melalui prinsip berkomunikasi seperti Qaulan sadidan dalam komunikasi Islam. Sobat Cahaya Islam juga dapat membangun dan menghidupkan akal dengan menerapkan metode talqiyan fikriyyan.































