Tsunami Aceh – Tanggal 26 Desember bagi umat di Indonesia tentu merupakan hari bersejarah yang tak terlupakan yakni datangnya bencana tsunami Aceh di tahun 2004 lalu. Bencana tersebut ternyata sekuat 100 giga ton dan hampir mengguncang 11 negara.
Sobat Cahaya Islam, bencana alam tsunami Aceh sendiri patut menjadi renungan bersama. Tak tanggung – tanggung, bahkan Bapak Bupati dari wilayah tersebut saja seringkali mengajak umat agar tak seringkali bermaksiat.
Bagaimana Seharusnya Umat Menanggapi Momen Tsunami Aceh?
Sobat Cahaya Islam, momen tsunami Aceh patut menjadi momen untuk merenungi bahwa manusia bukanlah perencana.
Tugas utamanya di dunia hanyalah untuk beribadah saja. Kalaupun manusia harus menghadapi sesuatu yang tak terduga dan tidak sesuai dengan ekspektasinya, maka tugas mereka ya ikhlas menerima kejadian tersebut. Bukan marah dan bahkan menjadikan Allah ta’ala sebagai kambing hitam.
Adanya bencana yang terjadi di Aceh ataupun beberapa kali di berbagai wilayah di Indonesia bukan hanya lantaran alasan ilmiah saja.
Umat Islam juga harus meyakini bahwa datangnya bencana tersebut tersebab Allah Ta’ala telah memberikan peringatan agar umat lebih dekat denganNya. Bukan karena Allah butuh umat, tapi umat yang akan menyesal bila meninggalkan Allah.
Fenomena kehidupan serba bebas hari ini juga menjadikan umat semakin bablas tanpa batas padahal ada tuntunan syariah yang harus mereka taati.
Walhasil, datangnya bencana selain umat anggap sebagai ujian keimanan juga bisa menjadi adzab dari Allah. Sebab kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian uamt, maka sleuruh manusia di muka bumi juga ikut merasakannya.
Maka dari itu, penting bagi umat yang mengetahui kebenaran untuk senantiasa melakukan dakwah kepada orang – orang yang melewati batas dan malah melakukan banyak kemaksiatan.
2 Cara Umat Bermuhasabah terhadap Datangnya Bencana
Sobat Cahaya Islam, sebagai kaum muslimin tentunya umat memahami bahwa setiap bencana pasti memiliki makna di dalamnya.
Bukan makna mistis ataupun yang dihubungkan dengan hal ghaib namun lebih kepada apakah hal tersebut merupakan ujian atau cobaan yang telah Allah berikan.
Salah satu wasilah agar umat dapat melakukan renungan terhadap datangnya bencana yakni dengan bermuhasabah, lantas bagaimana umat mengupayakannya?
1. Muhasabah Personal
Satu dari sekian cara yakni dengan melakukan muhasabah yang umat lakukan sendiri. Muhasabah ini sangat penting untuk umat lakukan bahkan setiap harinya.


Jadi tidak harus menunggu datangnya bencana. Hanya saja, terkadang banyak umat yang melalaikannya di saat memiliki kelapangan baik dari segi finansial ataupun segi lainnya. Padahal, dalam kondisi apapun harusnya umat dapat lebih sering melakukan muhasabah. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Hasyr ayat 18 yakni :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “
2. Muhasabah Massal
Selain personal, ada juga aktivitas muhasabah secara massal. Biasanya, aktivitas semacam ini diadakan oleh jamaah, komunitas keislaman atu bahkan sekelompok remaja masjid.


Selain melakukan renungan bersama, kadang di akhir acara biasanya umat juga membuat resolusi bersama agar strategi menuju yang lebih baik dapat berjalan dengan lancar.
Nah Sobat Cahaya Islam, demikianlah ulasan mengenai tsunami Aceh dan beberapa aktivitas muhasabah yang dapat umat lakukan. Semoga ulasan ini menjadi referensi bacaan umat yang menginspirasi.
































