Perbedaan musibah dan ujian banyak tidak diketahui oleh umat Islam. Padahal setiap orang beriman pasti akan Allah uji.
Mulai dari ujian kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesulitan, kesempitan, kelapangan, dan lain-lain. Allah sendiri akan menguji hamba-Nya sesuai dengan tingkatan keimanan dan kemampuannya.
Perbedaan Musibah dan Ujian
Saat ini, akan ada penjelasan lengkap mengenai perbedaan ujian dan musibah. Simak selengkapnya perbedaan musibah dan ujian agar Sobat Cahaya Islam paham.
1. Ujian
Ibtila’ merupakan suatu ujian yang secara bahasa berarti ikhtibar (penyelidikan) dan imtihan (percobaan), baik itu berupa kesulitan maupun kesenangan, kebaikan maupun keburukan.
Allah telah memberikan ujian kepada manusia dengan tujuan menguji siapa hamba-Nya yang bersyukur atas ujian nikmat Allah. Hal ini agar mengetahui siapa diantara hamba-Nya yang paling baik amalnya.
Firman-Nya dalam Surat Al-Anbiya ayat 35,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” 1
Ujian yang Allah berikan, harus disesuaikan dengan kadar dan kualitas keimanan seseorang. Hal ini sebagai sarana untuk menambahkan pahala bagi orang-orang yang bersabar.
Di dalam hadits riwayat Bukhari mengungkapkan bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi.
Seseorang terkadang sanggup bertahan di dalam keimanan, pada saat mendapatkan kesulitan. Namun, hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan. Ujian apapun yang Allah berikan pada Sobat Cahaya Islam, bersyukur dan bersabarlah.
Sebab, setiap ujian yang Allah timpakan pada seorang mukmin sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia. Jadi, tidak ada lagi siksa atas dosanya di akhirat.


2. Musibah
Apabila ujian dan cobaan itu dapat berbentuk kesenangan atau kesulitan. Sedangkan, musibah biasanya akan berbentuk sesuatu yang tidak disukai.
Musibah secara bahasa, lebih identik dengan teguran atau peringatan yang sudah menjadi ketentuan Allah. Hal ini terjadi karena kesalahan yang Sobat Cahaya Islam perbuat.
Apabila Allah menghendaki kebaikan, maka ia juga akan menyegerakan hukuman. Umat Islam akan Allah tegur di dunia, sehingga ia menjadi lebih baik dan suci dari dosa.
Namun, apabila Allah tidak mencintai hamba-Nya, maka ia juga akan tunda hukumannya dan ditunaikan di akhirat kelak. Hal ini sebagai akibat dari perbuatan dosa yang Sobat Cahaya Islam lakukan.
Orang-orang sabar saat mendapatkan musibah dan menjadikannya sebagai upaya perbaikan diri untuk lebih mendekat pada-Nya, maka akan mendapatkan ampunan di sisi-Nya.
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat pengampunan dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” 2
Musibah yang terjadi pada diri Sobat Cahaya Islam, harus mensyukurinya sebagai sarana introspeksi. Manusia tidak akan pernah luput dari kekhilafan.
Janganlah menjadi orang yang lemah imannya seperti surat Al Hajj ayat 11. Maknanya, ia hanya akan beriman apabila diberi kesenangan. Namun, mudah berbalik menjadi kafir ketika mendapat bencana atau musibah.
Perbedaan musibah dan ujian hanyalah menimpa orang-orang mukmin.
































