Pemimpin Zalim karena Rakyatnya Zalim, Mari Introspeksi Diri

0
142
pemimpin zalim karena rakyatnya zalim

Pemimpin zalim karena rakyatnya zalim – Ungkapan pemimpin zalim karena rakyatnya zalim berkaitan dengan kualitas seorang pemimpin mencerminkan kondisi masyarakat. Ketika rakyatnya melakukan perbuatan zalim, maka Allah akan memberikan pemimpin zalim sebagai bentuk ujian. Sebaliknya, ketika rakyat berbuat jujur dan adil, maka Allah akan memberikan pemimpin yang amanah.

Memaknai Pemimpin Zalim karena Rakyatnya Zalim sebagai Ujian

Hadirnya ‘kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian’ merupakan sebuah kata hikmah dan menjadi kaidah baku dalam masalah kepemimpinan. Faktanya hampir semua kelompok masyarakat akan mendapatkan pemimpin sesuai dengan kualitas kebaikan suatu masyarakat. 

Hal ini sebagaimana Allah menjadikan Firaun sebagai penguasa kaumnya, seperti penjelasan ayat berikut ini:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” 1

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kaum Fir’aun terdiri dari orang-orang fasik, sehingga Allah menjadikan orang seperti mereka sebagai penguasa. Berikut ini perlunya memaknai ungkapan pemimpin cerminan rakyatnya:

1. Intropeksi Diri Merupakan Bagian dari Masyarakat

Hubungan antara kualitas rakyat dan pemimpinnya menggambarkan bahwa rakyat yang memiliki iman dan akhlak baik akan menghasilkan pemimpin baik juga. Sebaliknya, ketiak rakyat memiliki moralitas rendah, maka berlaku ungkapan pemimpin dholim karena rakyatnya dholim. 

Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa penting melakukan introspeksi diri untuk setiap individu sebagai bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, sebelum Sobat mengkritik pemimpin harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah sebagai rakyat sudah berbuat baik dan berupaya memperbaiki diri. 

2. Menyikapi Pemimpin

Dosa memilih pemimpin zalim bisa Sobat hindari dengan bagaimana cara bersikap kepada pemimpin. Sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai rakyatnya. Sebaliknya, rakyat selalu mendoakan kebaikan untuk pemimpinnya. 

Hubungan yang harmonis antara rakyat dan pemimpin sekaligus menjadi tanda bahwa pemimpin tersebut menjalankan tugas dengan benar. Pemimpin yang mampu menjaga hubungan baik dengan rakyatnya akan mengurangi timbulnya permusuhan dan rasa saling membenci.

Cerminan kepemimpinan yang zalim salah satunya tidak berpihak kepada kemaslahatan umum. Salah satu hadits yang sejalan dengan ungkapan pemimpin yang zalim karena rakyatnya zalim berbunyi:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian seseorang mengatakan, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan salat di antara kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian melepas ketaatan kepadanya.2

3. Mengkritik Sesuai Ketaatan Islam

Pentingnya stabilitas dalam masyarakat, oleh karena itu untuk menghindari pemimpin zalim karena rakyatnya zalim harus Sobat kritik dengan tepat. Mengkritik pemerintah harus Sobat sampaikan dengan cara yang tepat berlandaskan ketaatan terhadap syariat Islam. 

pemimpin zalim karena rakyatnya zalim

Ketika menghadapi pemimpin yang tidak benar perbuatannya, maka benci saja perbuatan tindakan buruknya. Namun, Sobat harus menjaga ketaatan selama pemimpin tersebut menegakkan syariat islam. Rasulullah melarang tindakan pemberontakan menggunakan kekerasan selama pemimpin tersebut menjalankan kewajiban dasarnya sebagai muslim.

4. Dasar dari Keberkahan Negeri

Salah satu upaya mendapatkan pemimpin yang baik yaitu dengan memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Sebab, keimanan dan ketakwaan tak hanya berdampak pada kehidupan pribadi seseorang, melainkan juga efeknya signifikan terhadap kondisi negeri.

Untuk memperoleh keberkahan dari langit dan bumi, maka penduduk suatu negeri harus menjaga keimanan dan ketakwaan. Keberkahan luas bentuknya, seperti kemakmuran, ketenangan, hingga dalam bentuk kebaikan yang menopang kesejahteraan masyarakat. 

Sebagai muslim, Sobat memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki diri hingga kualitas keimanan. Bukan hanya untuk keselamatan dan kebahagiaan pribadi, melainkan untuk keberkahan negeri ini. Memaknai ungkapan pemimpin zalim karena rakyatnya zalim menjadi sarana untuk introspeksi diri.

Baik pemimpin maupun rakyatnya harus bersinergi menjaga keimanan dan ketakwaan agar negeri ini mendapatkan keberkahan.


  1. [Az-Zukhruf/43:54] ↩︎
  2. (HR. Muslim no. 1855) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY