Pelakor Della Puspita – Beberapa hari ini, kasus Pelakor Della Puspita menjadi salah satu topik hangat dalam pemberitaan. Pasalnya, setelah sekian lama menjanda kurang lebih 10 tahun, ia akhirnya melepas masa tersebut melalui pernikahan siri bersama suami barunya.
Sobat Cahaya Islam, trendingnya berita dengan tagline pelakor Della Puspita tentu menambah stigma negatif pada para publik figur. Hanya saja, sebagai seorang muslim tentu tidak bisa ikut menjadi haters dan menuduh sebab beritanya pun masih simpang siur.
Mengenali Permasalahan Pelakor Della Puspita
Selain di media sosial, berita pelakor Della Puspita juga ikut menjdi kontributor pada beberapa e-book majalah maupun situs media online.
Tentu saja, umat tidak boleh langsung terpancing dengan berita dengan tagline negatif. Sebab dari sisi karakter media sekarang saja, judul negatif memang lebih menjual ketimbang langsung menyebarkan fakta.
Sebagai seorang muslim, hal utama yang perlu dilakukan ketika mendengar sebuah berita yakni melakukan penggalian fakta. Bukan langsung menjadikannya sebagai sumber hukum apalagi fakta yang terjadi di lapangan. Hal ini penting agar umat tidak terjebak pada asumsi dan malah berujung pada fitnah. Naudzubillah.
Di masa lalu, kondisi fitnah dan asumsi sudah lama terjadi bahkan di beberapa masa kenabian utamanya ketika Rasulullah SAW masih hidup. Ada sebagian orang – orang yang senantiasa melakukan fitnah terhadap Islam sehingga beberapa umat menjadi ragu akan keimanan yang ada di dalam jiwa.
Maka dari itu, salah satu proses yang dilakukan agar tidak terjadi sekedar asumsi dan fitnah, maka penting untuk melakukan proses tabayyun.
Tabayyun sendiri akan memberikan banyak kebermanfaatan bagi kaum muslimin salah satunya yakni senantiasa menghadirkan perasaan damai. Sebab aktivitas asal menuduh ditiadakan dan diupayakan untuk tetap memberikan perlakuan terbaik pada yang ditanyai saat proses tabayyun.
Tips Melakukan Tabayyun
Di dalam Islam, ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar proses tabayyun bisa dilakukan dengan baik. Diantaranya yakni sebagai berikut :
1. Tidak Marah dan tetap Tersenyum
Hal pertama yang bisa dilakukan yakni dengan tetap memberikan senyuman dan memberikan pertanyaan dengan sopan. Hal ini sebagaimana yang Allah perintahkan untuk tetap berbuat baik dimanapun berada sebagaimana surat Al Isra ayat 7 yakni :
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
Artinya : Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.
Sebagian besar umat malah sering langsung menuduh manakala mendapati seseorang menjadi pelaku atas aktivitas yang bisa jadi tidak dilakukan seseorang.
Hanya saja, karena dipengaruhi amarah, maka proses tabayyun tidak dilakukan. Kondisi demikian tentu akan menyebabkan adanya konflik berkepanjangan. Bahkan bisa memicu dendam dan pembunuhan. Naudzubillah.
2. Saling Mencari Kebenaran
Selanjutnya, dalam proses tabayyun, penting bagi umat untuk menyepakati di awal bahwa proses tersebut dilakukan untuk mencari kebenaran. Fenomena yang sering terjadi, proses tabayyun tidak berjalan sempurna lantaran ego kedua pihak ingin memenangkan kebenaran.


Memang, menyampaikan kebenaran merupakan hal yang sulit sehingga tidak semua bisa dikatakan. Hanya saja, dibandingkan dengan azab Allah Ta’ala yang pedih ketika hari pertanggung jawaban alangkah baiknya bila kebenaran harus tetap disampaikan.
Selain itu, menyampaikan hal yang benar merupakan salah satu bagian dari proses ketaqwaan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Kahfi ayat 28 yakni :
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
Artinya : Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.
Nah Sobat Cahaya Islam, demikianlah ulasan yang berkaitan dengan pemberitaan pelakor Della Puspita dan beberapa cara untuk melakukan proses tabayyun. Semoga ulasannya bermanfaat.

































