Pamer Maksiat di Medsos: Hukum dan Cara Menghindarinya

0
935
Pamer Maksiat di Medsos

Pamer Maksiat di Medsos – Bagi umat muslim, media sosial (medsos) merupakan sarana untuk mendekatkan diri pada kebaikan. Sayangnya, banyak yang menyalahgunakan medsos untuk memicu dosa dan fitnah. Akhir-akhir ini, sudah tak terhitung pengguna internet menggunakan medsos sebagai ajang pamer kemaksiatan. Oleh karena itu, coba kita renungkan, pantaskan seorang muslim menampakkan kemaksiatan di hadapan jutaan orang?

Pamer Maksiat di Zaman Nabi Luth

Dalam peradaban manusian, perilaku pamer kemaksiatan bukanlah hal baru. Dulu, kaum Nabi Luth pernah berbuat keji di tempat perkumpulan atau ruang terbuka. Bahkan, Allah mengabadikan kisahnya dalamAl-Qur’an. Saat melihat kaumnya berbuat maksiat di depan umum, Nabi Luth mengatakan:

اَىِٕنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُوْنَ السَّبِيْلَ ەۙ وَتَأْتُوْنَ فِيْ نَادِيْكُمُ الْمُنْكَرَ

“Pantaskah kamu mendatangi laki-laki (untuk melampiaskan syahwat), menyamun, dan melakukan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” (1)

Mendengar perkataan itu, kaum Nabi Luth bukannya takut malah menantang agar Allah segera mendatangkan adzabnya. Dalam kitab tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Nabi Luth tidak malu sama sekali melakukan perbuatan serta ucapan keji di tempat-tempat umum. Bahkan, mereka pun saling mendukung satu sama lain. Jika kita tidak merasa malu melakukan maksiat di depan umum, atau mengumbar kemaksiatan tersebut di medsos, bukankah kita sama saja dengan kaum Nabi Luth?

Pamer Maksiat di Medsos, Dosa yang Tak Terampuni

Jika orang-orang telah menganggap perbuatan keji sebagai hal biasa, pasti pelakunya merasa bangga. Kita bisa menyaksikan fenomena yang memprihatinkan ini di media sosial. Banyak pembuat konten berisi kemaksiatan sangat menikmati dukungan dari para penonton dan mendapat keuntungan materi. Padahal, Rasulullah telah mengingatkan umatnya:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ

“Seluruh umatku akan mendapat ampunan, kejuali orang yang terang-terangan berbuat dosa (mujahirin).” (2)

Anehnya, manusia justru bangga mengumbar kemaksiatan yang mereka perbuat. Bahkan, mereka malah malu melakukan ataupun menceritakan kebaikan ke publik. Saat ini, maksiat lebih mudah kita lihat daripada kebaikan. Apalagi di zaman di mana media sosial semakin merajalela untuk menjadi ajang pamer dosa.

Pamer Maksiat Tanda Lemahnya Iman

Rasa malu termasuk bagian dari iman, sebagaimana hadits sahih berikut ini:

 الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman punya 60 cabang dan rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (3)

Maksudnya, setiap manusia harusnya punya naluri rasa malu. Tentu saja, rasa malu inilah yang membuat seseorang menjauh dari perbuatan tercela. Pada dasarnya, tak ada orang yang ingin orang lain mengetahui perbuatan dosanya, selama ia masih punya rasa malu.

Tapi jika rasa malu telah hilang dari diri seseorang, akibatnya ia akan dengan bangganya memamerkan kemaksiatan di depan ribuan bahkan jutaan mata. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, di mana banyak sekali orang yang pamer dosa di media sosial. Terakhir, mudah-mudahan kita bisa menjaga diri kita dari segala bentuk kemaksiatan dengan tetap punya rasa malu kepada Allah.


Referensi:

(1) Q.S. Al-‘Ankabut 29

(2) Sahih al-Bukhari 6069

(3) Sahih al-Bukhari 9

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY