Dosa yang Menghapus Pahala – Sebagai manusia, kita tak bisa lepas dari dosa. Namun, ada beberapa dosa yang terlihat sepele tapi berakibat fatal karena dapat menghapus pahala dari amal ibadah atau kebaikan. Agar lebih hati-hati, sobat Cahaya Islam harus tahu apa saja jenis dosa-dosa tersebut sehingga bisa menghindarinya.
Riya, Dosa yang Menghapus Pahala
Kita semua tahu bahwa riya adalah beramal dengan niat agar tampak baik di mata orang lan. Padahal, sifat ini sangat berbahaya. Bahkan, Allah mengibaratkannya sebagai syirik kecil.
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah beramal saleh dan tidak menjadikan apapun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” (1)
Para ulama menafsirkan maksud dari ‘syirik dalam beribadah’ dalam ayat ini maksudnya adalah riya. Maksiat hati ini termasuk sangat tercela dalam agama Islam, bahkan bisa menggugurkan pahala amal-amal kebaikan yang telah kita lakukan. Jadi, jika sobat Cahaya Islam tidak ingin amalnya sia-sia, maka jauhi sifat riya ini.
Ujub Lebih Berbahaya daripada Riya
Biasanya, di antara tanda sifat ujub adalah takabur. Rasulullah sendiri dengan tegas menolak sifat takabur dengan ancaman seperti dalam hadits ini:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surge bagi siapapun yang dalam hatinya ada sedikit saja sifat takabur.” (2)
Ujub sendiri adalah merasa bahwa kemampuan beramal atau ketaatan kepada Allah adalah atas usahanya sendiri. Atau, ia menganggap dirinya lebih bertakwa dibandingkan orang lain. Agar terhindar dari ujub, maka kita harus sadar bahwa semua yang terjadi ini atas kehendak Allah. Dengan begitu, kita tidak akan berani merasa lebih baik, lebih ‘alim, atau lebih sholih daripada orang lain.
Hati-hati dengan Hasud/Dengki
Hasud ialah tidak suka dengan nikmat orang lain. Orang yang punya sifat ini akan merasa tersiksa jika orang lain mendapatkan kesuksesan atau keberuntungan. Salah satu larangan hasud ada pada ayat Al-Qur’an berikut ini:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (3)
Agar jauh dari sifat hasud, kita harus memperbanyak rasa syukur dan ridha terhadap pemberian atau takdir Allah. Pasalnya, sifat hasud biasanya datang dari hati yang merasa tidak puas terhadap nikmat Allah.
Putus Asa Terhadap Rahmat Allah


Putus asa terhadap rahmat Allah adalah dosa besar. Biasanya, keputus asaan ini muncul dari sifat-sifat buru lain seperti prasangka buruk kepada Allah, menafikan takdir, tidak tawakal, dan tidak sabar. Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (4)
Oleh karena itu, hendaknya kita meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Sobat Cahaya Islam harus ingat bahwa apapun yang Allah berikan kepada hamba-Nya pasti yang terbaik dan ada hikmahnya.
Referensi:
(1) Q.S. Al-Kahfi 110
(2) Jami’ at-Tirmidhi 1999
(3) Q.S. An-Nisa 32
(4) Q.S. Az-Zumar 53
































