Muhammadiyah Perkuat Ekonomi Inklusif Mendorong Difabel Bangkit Mandiri

0
47
Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif

Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif – Majelis Pembinaan KEsejahteraan Sosial PP Muhammadiyah menggelar Program BERDAYA atau Bersama Difabel Berkarya. Melalui program ini, Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif demi mendorong kaum difabel bisa mandiri dan bangkit. Program tersebut menyasar 30 penyandang difabel yang berasal dari berbagai ragam disabilitas di Jabodetabek.

Tujuan Muhammadiyah Perkuat Ekonomi Inklusif

Hakekatnya, pemberdayaan penyandang difabel menjadi misi Muhammadiyah untuk membebaskan, memberdayakan hingga memajukan martabat manusia. Oleh karena itu, keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang mereka untuk berkarya dan berprestasi. 

Hal ini senada yang disampaikan oleh ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman dalam program BERDAYA. Sebab, Allah tidak melihat fisik maupun rupa, akan tetapi melihat iman, hati, dan amal perbuatan hambaNya. 

Agus Taufiqurrahman menegaskan bahwa amal saleh merupakan karya-karya yang baik, sehingga kekurangan bukan penghalang prestasi. Ia mengajak peserta pelatihan dapat terus berkarya dengan niat ikhlas dan semangat kemandirian di tengah tantangan kehidupan. Oleh karena itu, pentingnya program Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif bisa berjalan.

Mengenal Program BERDAYA

Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif melalui program BERDAYA merupakan ikhtiar mendorong kemandirian ekonomi berupa pelatihan hingga pendampingan usaha. Program ini menjadi lanjutan dari Gerakan Ekonomi Inklusif tahapan ketiga dari hasil kolaborasi MPKS PP Muhammadiyah dan Lazismu. 

Program BERDAYA yang diinisiasi Muhammadiyah bersama Lazismu menempatkan pemberdayaan berkelanjutan sebagai tujuan utama, khususnya bagi penyandang difabel. Inisiatif ini tidak sekadar membantu agar mereka mampu bertahan secara ekonomi, tetapi juga mendorong agar difabel dapat tumbuh dan berkembang sebagai pelaku usaha mandiri.

Selain fokus pada kemandirian, Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif juga ingin memberikan para difabel bisa berdaya saing. Pendekatan tersebut menekankan proses pendampingan jangka panjang, sehingga penerima manfaat memiliki keterampilan, kepercayaan diri dan kemandirian dalam mengelola usaha.

Wakil Ketua I MPKS PP Muhammadiyah, Dr. Ridwan Furqoni, MPI, menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan dalam Muhammadiyah seharusnya bisa terwujud melalui kontribusi sosial yang konkret. 

Menurutnya, keberagamaan tidak cukup berhenti pada kesalehan individu, melainkan harus melahirkan amal saleh yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Program BERDAYA merupakan wujud ikhtiar agar ibadah memiliki dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan. 

Lebih lanjut, Ridwan menyoroti pentingnya perubahan peran penerima manfaat dalam ekosistem ekonomi umat. Ia berharap terjadi transformasi dari posisi penerima bantuan menjadi subjek pemberdayaan, bahkan mampu berkontribusi kembali. Dari mustahik menuju muzaki menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan. 

Badan Pengurus Lazismu Pusat menyampaikan bahwa pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah harus terarah secara produktif agar mampu memberikan dampak jangka panjang. Menurutnya, zakat tidak cukup hanya meringankan beban sementara, tetapi harus berperan dalam mendorong perubahan kehidupan.

Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif

Dari kondisi rentan menuju tangguh, dari ketergantungan menuju kemandirian, serta dari keterpinggiran menuju keberdayaan. Artati juga menjelaskan bahwa persoalan yang menimpa penyandang difabel bersifat multidimensi, mencakup aspek kesehatan, pendidikan, hingga stigma sosial. 

Oleh karena itu, upaya pemberdayaan memerlukan kolaborasi yang terstruktur. Ia menilai MPKS memiliki peran strategis sebagai penghubung agar program-program pemberdayaan saling terintegrasi dan berkelanjutan.

Program Muhammadiyah perkuat ekonomi inklusif perlu perhatian seluruh pihak. Oleh karena itu, sinergi antara MPKS dan Lazismu sangat krusial agar program pemberdayaan dapat berjalan optimal dan saling menguatkan. 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY