Menyindir Orang Lewat Story: Ghibah dan Fitnah Digital

0
542

Menyindir Orang Lewat Story – Sobat Cahaya Islam, zaman digital membuat segalanya mudah – termasuk menyampaikan unek-unek lewat story media sosial. Banyak orang menggunakan story untuk menyindir tanpa menyebut nama, berharap si target merasa “tersenggol”. Namun, apakah cara seperti ini sesuai dengan akhlak Islam?

Menyindir Orang Lewat Story Bukan Gaya Komunikasi Seorang Muslim

Menyampaikan kritik secara tidak langsung memang lebih mudah dan terasa aman. Tapi Islam tidak mengajarkan cara menyakiti hati orang lain, apalagi dengan cara licik yang mengundang rasa penasaran dan ghibah.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ…

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, bisa jadi mereka lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok).” (1)

Sindiran halus yang menyakiti sama buruknya dengan celaan langsung. Bahkan, bisa lebih kejam karena menyembunyikan niat di balik topeng humor atau quote. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam membuat story di medsos, jangan sampai menyindir atau menyakiti perasaan orang lain.

Dosa Terselubung: Ghibah dan Fitnah Digital

Sobat Cahaya Islam, menyindir lewat story seringkali berujung pada ghibah atau fitnah, dua dosa besar yang sangat dibenci Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

هَلْ تَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Rasulullah bersabda, ‘Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.’ (2)

Walaupun tanpa menyebut nama, jika yang disindir dan yang melihat sama-sama tahu siapa yang dimaksud, maka itu tetap termasuk ghibah. Bahkan bisa jadi fitnah, jika tuduhan itu tidak benar. Maka, hal ini bisa menjadi dosa yang terus-menerus terjadi jika kita tidak bisa mengendalikan jari-jemari untuk ber-medsos.

Berakhlak Digital: Etika Muslim di Media Sosial

Islam menganjurkan untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang baik, bukan dengan menyebar sindiran. Jika kita tersakiti oleh seseorang, Rasulullah ﷺ mengajarkan:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (3)

Bukan malah menyingkap aibnya lewat kata-kata samar di story. Jika kita benar-benar ingin menasihati, lakukan secara langsung, pribadi, dan dengan cara yang baik.

Sobat Cahaya Islam, menyindir lewat story mungkin terasa memuaskan, tapi apakah sebanding dengan dosa yang mengintai? Daripada mem-posting sindiran, lebih baik kita memilih jalan dialog atau diam yang mendamaikan. Ingat, setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban, bahkan yang ditulis dalam status!


Referensi:

(1) QS. Al-Hujurat: 11

(2) Sahih Muslim: 2589

(3) Sahih Muslim 2590

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY