Perintah Menjaga Pendengaran Menurut Ajaran Islam

0
139
Menjaga pendengaran

Menjaga pendengaran – Indera pendengaran merupakan salah satu tanda nikmat Allah yang luar biasa kepada manusia. Hidup penuh warna dan Sobat bisa menikmati berbagai jenis suara di alam semesta ini. Menjaga pendengaran merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Perintah Menjaga Pendengaran

Pengertian menjaga pendengaran dalam Islam yaitu secara sadar memilih mendengarkan hal-hal baik dan bermanfaat. Sebagai bentuk rasa syukur, Sobat harus selalu merawat telinga dengan baik agar tidak membawa ke lembah kenistaan. Pentingnya memilah suara yang harus Sobat dengar dan mana yang tidak sebagaimana ayat berikut ini:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” 1

Dalam ayat tersebut, menjaga telinga dari maksiat bertujuan agar Sobat selalu bersyukur karena memiliki indera pendengaran. Hendaknya umat Islam menggunakan telinga menjadi sarana ibadah agar bisa mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya. 

Banyak yang masih tidak memahami bahwa dosa ghibah tidak hanya dikenakan untuk yang membicarakan, melainkan juga yang mendengarnya. Sebab, mendengarkan keburukan bersama-sama termasuk dosa. Perbuatan ghibah terdiri dari dua syarat, yakni lisan dan pendengaran. Lisan bisa saja mengurungkan niat untuk membuka aib orang lain.

Menjaga pendengaran dalam hal ghibah, telinga dapat mengucilkan mendengarkan aib orang lain. Semakin banyak mendengarkan ilmu-ilmu maksiat, maka ibadah lainnya akan sia-sia hingga dapat mematikan hati. 

Pendengaran Bisa jadi Sumber Dosa 

Melalui telinga, seseorang dapat mendengar kalimat tauhid, ayat Al-Qur’an, serta berbagai nasihat yang menuntun kepada kebaikan. Namun, jika tidak Sobat jaga, pendengaran justru dapat menjadi sumber dosa yang membahayakan iman. Islam menekankan bahwa apa yang Sobat dengar akan berpengaruh pada hati. 

Menjaga pendengaran

Mendengarkan ghibah, fitnah, ucapan kotor, atau nyanyian yang melalaikan dapat menjerumuskan seorang Muslim dalam dosa. Rasulullah juga mengingatkan bahwa seseorang tidak hanya berdosa karena lisannya, tetapi juga karena telinganya yang turut mendengar keburukan. Sebagaimana dalam sebuah hadis 

“Orang yang menggunjing dan orang yang mendengarkan keduanya berdosa.” 2

Hadits menjaga pendengaran ini menegaskan bahwa mendengar ghibah tanpa menolaknya sama dengan ikut serta dalam dosa. Bahkan diam ketika telinga disuguhi perkataan sia-sia juga menjadi bentuk partisipasi dalam keburukan. 

Oleh sebab itu, seorang Muslim wajib menjaga telinga dengan mendengarkan hal-hal baik, seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, dan nasihat yang bermanfaat. Sebaliknya, ia harus menjauhkan diri dari mendengarkan ucapan yang merusak hati dan akhlak.

Pendengaran akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Jika digunakan dengan benar, maka akan menjadi jalan menuju surga. Namun, jika Sobat pakai untuk mendengar kemaksiatan, maka pendengaran menjadi sumber dosa yang berat.

Cara Menjauhi Perbuatan Ghibah

Ghibah adalah dosa besar yang harus dihindari setiap Muslim. Senantiasa berlindung kepada Allah Ta’ala, memohon pertolongan agar lisan terjaga dari ucapan yang sia-sia dan berdosa. Untuk menjauhi ghibah, hindari tempat atau aktivitas yang rawan menjadi ajang ghibah, karena lingkungan sangat mempengaruhi perilaku.

Ketika berada dalam majelis yang penuh ghibah, berusahalah menasihati dengan ikhlas dan bijak serta menjaga pendengaran. Ingatkan bahwa ghibah adalah dosa besar, tanpa kesombongan agar nasihat mudah Sobat terima.

Menjaga pendengaran dari ghibah bukan perkara mudah. Sobat membutuhkan kesungguhan, latihan, dan kesabaran. Selain lisan, pendengaran pun harus Sobat jaga dari hal-hal yang melalaikan, agar hati tetap bersih dan dekat dengan Allah Swt.


  1. (Surah An Nahl ayat 78) ↩︎
  2. (HR. Al-Bukhari, no. 2311) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY