Dosa Telinga Saat Mendengarkan Ghibah Menurut Islam

0
164
dosa telinga

Dosa telinga – Ghibah atau bergosip merupakan perbuatan membicarakan keburukan orang lain dalam bentuk ucapan, tulisan, maupun kedipan mata. Perlunya Sobat Cahaya Islam memahami dosa telinga terutama berkaitan dengan mendengarkan ghibah. Menghindari ghibah termasuk cara memelihara hati dan akal agar tidak berbuah dosa.

Dosa Telinga Akibat Mendengarkan Ghibah

Ghibah merupakan salah satu pintu dosa yang berasal dari setan. Ia menggoda manusia agar lisan digunakan untuk membicarakan aib orang lain. Islam melarang ghibah karena dapat menambah dosa telinga, menimbulkan permusuhan, kebencian hingga perpecahan.

Allah melarang umatNya untuk menggunjing orang lain karena sama saja dengan berbuat zalim. Ghibah tidak hanya dosa besar, melainkan juga menjadi upaya setan merusak ukhuwah Islamiyah. Oleh karena itu, Sobat wajib melawan godaan ini.

Sebagai seorang Mukmin hendaknya Sobat menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat. Terlebih lagi jika perbuatan tersebut menjerumuskan diri dalam perbuatan dosa. Sebab, segala sesuatu perbuatan pasti akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. 

Dosa mendengarkan ghibah merupakan salh satu prebuatan yang harus Sobat hindari sebagaimana ayat berikut ini:

“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan ditanyai (dimintai pertanggungjawaban).” 1

Haram bagi bagi umat muslim yang mendengarkan maupun menyetujui ghibah. Oleh karena itu, wajib bagi siapa saja mengingatkan seseorang yang mulai menggibah agar segera meninggalkan majelis atau tempat ghibah. 

Ketika Sobat tidak memungkinkan meninggalkan tempat orang berghibah, maka wajib mengingkari ghibah tersebut dalam hatinya. Apabila Sobat mampu mengingkari dengan lisan, maka wajib hukumnya untuk memotong pembicaraan ghibah.

Kemudian, Sobat bisa menggantinya dengan topik lainnya. Ketika tidak melakukan apapun ketika orang berghibah, maka sama saja dengan berbuat maksiat atau dosa. Oleh karena itu, Sobat harus benar-benar membenci atau mengingkari ghibah menggunakan hati untuk menghindari dosa telinga.

Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah

Ghibah atau menggunjing termasuk dosa telinga yang sering diremehkan. Banyak orang menyesal setelah melakukannya, namun bingung bagaimana cara bertaubat. Dalam Islam, taubat dari ghibah memiliki tuntunan yang jelas.

1.Memohon Kehalalan

Pertama, seseorang harus meminta kehalalan atau memohon maaf dengan tulus kepada orang yang telah ia ghibahi. Hal ini sebagaimana hadits:

“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal kehormatan atau lainnya, hendaklah ia meminta kehalalannya hari ini, sebelum datang hari kiamat di mana dinar dan dirham tidak bermanfaat. Jika ia memiliki amal saleh, akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika tidak, keburukan saudaranya akan dibebankan kepadanya.” 2

2. Mendoakan Kebaikan Korban Gunjingan

Ketika meminta maaf secara langsung justru menimbulkan mudarat lebih besar, maka ulama menjelaskan beberapa solusi. Di antaranya dengan mendoakan kebaikan bagi orang yang telah digunjingkan, memperbanyak amal saleh, serta menjaga lisan agar tidak mengulanginya. 

dosa telinga

Hal ini harus Sobat lakukan karena mengungkap ghibah terkadang menimbulkan masalah baru, seperti sakit hati, permusuhan, atau rusaknya ukhuwah. Oleh sebab itu, seseorang harus menimbang dengan bijak. Jika yakin orang tersebut berlapang dada, maka meminta maaf secara langsung lebih utama. 

Tetapi jika khawatir justru menimbulkan kerusakan, maka cukup bertaubat kepada Allah, memperbanyak doa, dan mengganti keburukan dengan kebaikan. Prinsip dalam agama Islam adalah mencegah kerusakan yang lebih besar. Taubat dari ghibah harus Sobat lakukan dengan penuh kesungguhan serta bertekad untuk tidak mengulanginya. 

Atas izin Allah, taubat dari dosa telinga yang ikhlas akan menghapus dosa dan menjaga kehormatan diri seorang Muslim. Salah satu dosa ini dapat Anda hindari sekaligus melakukan pertobatan sesuai dengan cara yang ulama anjurkan.


  1. [QS. Al-Isra’: 36] ↩︎
  2. (HR. Bukhari, no. 2449) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY