Memahami Takdir Allah, Jangan Sampai Salah Menyikapinya!

0
1206
Memahami Takdir Allah

Memahami Takdir Allah – Sobat Cahaya Islam pasti sudah tahu bahwa iman kepada takdir Allah adalah salah satu rukun iman, yaitu rukun iman yang ke-enam. Entah itu takdir baik maupun buruk, semuanya datang dari Allah sehingga kita wajib mengimaninya. Sayangnya, banyak umat muslim yang masih bingun dalam memahami takdir, khususnya takdir buruk.

Macam-macam Takdir yang Wajib Kita Imani

Ada 4 tingkatan takdir. Yang pertama adalah iman kepada ilmu-Nya yang azali seblum semua ini ada. Misalnya adalah Allah sudah mengetahui amal seseorang sebelum ia melakukannya. Tingkatan kedua adalah iman bahwa Allah sudah menuliskan takdir di Lauhul Mahfudz. Yang ketiga adalah mengimani kehendak Allah (masyi’ah) bahwa semua ini terjadi atas kehendaknya. Dan tingkatan ke-empat adalah beriman bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk amal para manusia.

Kemudian, ada 2 macam takdir yang harus kita ketahui dan Imani. Yang pertama adalah takdir umum di mana takdir ini mencakup semua yang ada. Sementara yang kedua adalah perincian dari takdir umum, yang terdiri dari takdir ‘umri dan takdir tahunan.

Takdir ‘umri sendiri mencakup beberapa hal yaitu rezeki, ajal, amal, dan Bahagia atau sengsara. Sedangkan takdir tahunan adalah takdir yang ditetapkan di malam lailatul qadar tentang kejadian dalam satu tahun.

Memahami Takdir Allah dengan Benar

Ada kelompok umat Islam yang salah menyikapi takdir. Yang pertama adalah kelompok Qodariyyah. Dalam kelompok ini, mereka mengingkari ilmu Allah sehingga mengatakan bahwa Allah melarang dan memerintah tapi Dia tidak tahu siapa yang akan taat dan tidak. Sedangkan Sebagian dari kelompok ini mengimani ilmu Allah tapi menganggap bahwa perbuatan manusia adalah kehendak sendiri, bukan atas kehendak Allah. Inilah yang kita kenal dengan kelompok mu’tazilah.

Sebaliknya, ada kelompok Jabariyyah yang berlebihan menetapkan takdir. Maksudnya, mereka menganggap bahwa seorang hamba tidak punya kemampuan dan usaha (ikhtiar) sama sekali sehingga hamba hanya dipaksa menuruti takdir.

Tentu saja, pemahaman-pemahaam di atas keliru. Yang benar adalah bahwa ketaatan, kekufuran, kemaksiatan, dan kerusakan, semuanya terjadi atas ketetapan Allah. Allah tidak memaksa hambanya, tapi hamba-lah yang memilih melakukannya. Allah berfirman:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (1)

Buah dari Keimanan terhadap Takdir Allah

Jika seseorang salah memahami takdir, ia akan menyangkan bahwa seseorang hanya bisa pasrah tanpa berbuat apapun. Misalnya, ketika seorang laki-laki berkewajiban menafkahi anak dan istrinya, ia tidak berusaha mencari rezeki tapi hanya pasrah dan dan berdoa tanpa berusaha. Padahal, Allah sendiri yang menyuruh manusia agar tidak mencari rezeki sehingga kita tidak boleh putus asa.

Sementara itu, seseorang yang beriman terhadap takdir Allah akan lebih tenang hatinya sehingga tidak risau menjalani kehidupan. Misalnya, jika seseorang percaya bahwa musibah adalah takdir-Nya, ia tidak akan berlarut dalam kesedihan karena tak seorangpun dapat lari dari takdir. Rasulullah bersabda:

وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun buruk.” (2)

Jadi, jika seseorang benar-benar memahami takdir Allah, ia pasti akan menyikapi musibah apapun dengan tenang. Lain halnya jika ia tidak memahami takdir dengan benar, tentu ia akan berlarut dalam kesedihan dan mudah gelisah.


Referensi:

(1) Q.S. At-Takwir 29

(2) H.R. Muslim 8

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY