Kriteria Wanita Idaman untuk Dijadikan Istri

0
1047
Kriteria Wanita Idaman

Kriteria Wanita Idaman – Di zaman akhir ini, moral dan akhlak semakin memprihatinkan. Oleh karenanya, kita harus berhati-hati dalam memilih pasangan. Seorang laki-laki yang ingin menikah hendaknya mengetahui kriteria seperti apa yang harus seorang Wanita miliki sebagai istrinya nanti. Jika seorang Wanita memenuhi beberapa kriteria di bawah ini, artinya ia adalah istri idaman.

Kriteria Wanita Idaman: Agamanya Bagus

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah pernah menganjurkan para lelaki untuk memilih Wanita yang baik agamanya sebagai istri, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah di bawah ini:

 تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena 4 faktor: agama, martabat, harta, dan kecantikannya. Pilihlah yang baik agamanya! Jika tidak, engkau akan merugi.” (1)

Inilah kriteria pertama dan paling utama yang harus kita perhatikan dalam memilih pasangan. Sebelum mempertimbangkan faktor lain, pastikan dulu ia baik agamanya!

Menjaga atau Menutup Aurat

Baik laki-laki maupun Perempuan wajib menutup aurat. Tapi, karena aurat Wanita adalah hampir seluruh tubuhnya, maka ini perlu menjadi perhatian lebih. Allah sendiri telah memerintahkan para Wanita agar tidak menampakkan auratnya, sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur’an berikut:

فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya.” (2)

Maksud kata ‘perhiasa’ dalam ayat di atas adalah aurat. Sedangkan yang biasa Nampak adalah muka dan telapak tangan. Sayangnya, kesadaran para Wanita untuk menutup aurat semakin hari semakin rendah. Kita bisa melihat banyaknya Wanita muslim yang tidak berkerudung, bahkan memakai pakaian seksi yang menampakkan auratnya. Mereka bukanlah Wanita idaman untuk menjadi seorang istri.

Kriteria Wanita Idaman: Berpakaian Sesuai Ketentuan Syariat

Selain menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, seorang Wanita juga hendaknya tidak memakai pakaian yang ketat atau tipis. Tak hanya itu, Rasulullah juga pernah memperingatkan para Wanita agar tidak berlebihan memakai wewangian atau parfum. Beliau bersabda:

 أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang Perempuan yang mengenakan wewangian lalu melewati sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harumnya, makai ia (bagaikan) seorang pelacur.” (3)

Selain itu, hendaknya Wanita tidak memakai pakaian yang menyerupai pakaian yang identik dengan pakaian laki-laki atau pakaian non-muslim, karena itu termasuk tasyabbuh di mana Islam melarangnya.

Betah Tinggal di Rumah

Saat ini, banyak Wanita yang seakan tidak betah berada di rumah. Mereka lebih suka nongkrong atau kluyuran Bersama teman-temannya. Padahal, Allah sendiri yang memerintahkan:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian.” (4)

Maka, Islam hadir memberi aturan bahwa seorang Wanita boleh keluar rumah selama ada mahram yang menemaninya. Mirisnya, banyak Perempuan yang seakan merasa bangga berduaan dengan pacarnya padahal hal tersebut jelas-jelas mendekati zina.

Punya Sifat Malu

Dalam Islam, malu adalah bagian dari iman. Memang benar, seseorang yang tidak punya rasa malu akan lebih mudah berbuat dosa. Sementara itu, seseorang yang memiliki rasa malu akan lebih berhati-hati dalam berbuat.

Selain malu kepada orang lain, hendaknya kita merasa malu kepada Allah Yang Maha Melihat. Bahkan, kita pun harus malu kepada diri sendiri yang banyak berlumur dosa ini. Rasulullah bersabda:

 الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (5)

Itulah beberapa kriteria Wanita yang harusnya menjadi idaman para pria. Maka wahai para Wanita, berlombalah untuk menjadi Wanita idaman sesuai aturan Islam di atas. Begitu juga seorang pria yang ingin mendapatkan istri idaman, hendaknya ia juga memantaskan diri untuk menjadi suami dari seorang Wanita solihah.


Referensi:

(1) Sahih al-Bukhari 5090

(2) Q.S. An-Nur 31

(3) Sunan an-Nasai 5126

(4) Q.S. Al-Ahzab 33

(5) Sahih al-Bukhari 6117

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY