Hari Raya Deepavali, Bolehkah Muslim Mengucapkan Selamat kepada Umat Hindu?

0
384

Hari Raya DeepavaliSalah satu hari raya umat Hindu selain Nyepi adalah hari raya Deepavali, atau Diwali. Hari raya ini disebut juga sebagai festival cahaya. Diwali merupakan salah satu hari raya yang paling ditunggu oleh umat Hindu khususnya India. Pasalnya pada perayaan Deepavali atau Diwali digelar selama lima hari berturut-turut, dan di setiap hari memiliki perayaan yang berbeda-beda.

Dalam kalender Hindu, hari raya Deepavali jatuh sekitar bulan Oktober atau November. Tahun ini Deepavali jatuh pada tanggal 14 November. Hari pertama perayaan Deepavali disebut Vasu Daras, dilanjutkan hari kedua Dhan Teras, kemudian hari ketiga Naraka Chaturdashi, disusul hari keempat Laksmi Puja, dan hari terakhir Bali Pratipada.

Hari pertama dirayakan untuk hewan-hewan yang dianggap suci oleh umat Hindu seperti sapi. Hari kedua dirayakan dengan membeli emas atau perak sebagai peringatan munculnya Dewa Dhanvantari dan diyakini barang tadi akan membawa keberuntungan sepanjang tahun. Pada hari ketiga rakyat membuat Rangoli (dekorasi dari beras dan tepung) sebagai persembahan atas kemenangan Dewa Krisna melawan Narakasura.

Pada hari keempat acara pemujaan terhadap Dewi Laksmi atas kesejahteraan dan kepada Dewa Ganesha atas keberuntungan. Hari terakhir diperingati sebagai hari di mana Dewa Krisna menyelamatkan rakyat dari bencana banjir dengan mengangkat bukit Govardhana. Menarik bukan perayaan hari Deepavali ke-5122 ini?

Sobat Cahaya Islam, karena mayoritas umat Hindu ada di India. Namun, minoritas Hindu di beberapa negara lain juga sudah mulai ramai untuk merayakan hari raya Deepavali. Seperti halnya saat hari raya umat Nasrani tiba, banyak terjadi pro kontra dalam umat Islam saat memberikan ucapan selamat di hari raya umat agama lain. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal ini, simak ulasan berikut.

Hari Raya Deepavali, Pro Kontra Muslim Ucapkan Selamat kepada Umat Hindu

Masyarakat Indonesia seringkali berdebat mengenai ucapan selamat atas hari raya umat agama lain. Misalnya natal, nyepi, dan sejenisnya. Pandangan ini kerap menimbulkan pro kontra dan tidak jarang menyebabkan perdebatan dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui media sosial.

Perkara ini sebenarnya tidak ada dalam Al-quran maupun Hadist secara nyata. Sehingga ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Persoalan ini dikategorikan sebagai salah satu persoalan ijtihad. Nah, untuk memahami penjelasan dari masing-masing ulama yang pro dan kontra, simak ulasan berikut:

  • Boleh

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan mengucap selamat atas hari raya umat non-muslim. Hal ini diniatkan sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada umat agama lain sebagaimana umat agama lain yang menghormati hari raya idul fitri bagi muslim. Selain itu firman Allah dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8 menjelaskan:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Kelompok ini memperbolehkan sebab diniati untuk berbuat baik kepada setiap orang yang tidak menyerang atau menghakimi agama kita. Mengucapkan selamat atas hari raya umat non-muslim bukan berarti mengakui kepercayaan mereka, melainkan untuk menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama.

  • Tidak Boleh

Pendapat lain menjelaskan bahwa memberikan ucapan selamat atas hari raya umat agama lain adalah haram hukumnya. Penganut hukum ini mendasarkan alasannya sesuai firman Allah dalam Surat Al-Furqon ayat 72 yang artinya:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”

Kelompok yang mengatakan haram berpendapat bahwa seorang muslim yang mengucapkan selamat atas hari raya umat agama lain sama halnya dengan mengakui kepercayaan dan menyerupai umat non-muslim. Mereka juga dianggap menyiarkan ajaran kaum kafir.

Sebenarnya kita bisa langsung menghukumi perbuatan ini boleh atau haram. Namun, jika diniati untuk memberikan penghormatan tanpa diiringi keyakinan yang bertentangan terhadap akidah islam, seperti ikut merayakan hari raya Deepavali. Maka hal itu boleh dilakukan. Wallahu a’lam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY