Dosa Kecil Jadi Besar – Berbuat maksiat akan mendatangkan dosa, bisa kecil atau bisa juga besar. Banyak orang menganggap sepele dosa kecil. Padahal, jika kita membiarkan atau membiasakan perbuatan itu, maka lama kelamaan juga akan menumpuk. Bahkan, dosa yang sebenarnya termasuk kecil bisa berubah menjadi besar. Mau tahu alasannya? Simak penjelasan di bawah ini!
Dosa Kecil Jadi Besar Jika Menjadi Kebiasaan
Jika seseorang sering melakuka maksiat meskipun sepele, tapi sudah menjadi kebiasaan, maka ingatlah hadits di bawah ini:
لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ
“Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” (1)
Meski para ulama menilai hadits ini dho’if, tapi kita patut merenungkannya. Jika kita sudah bertaubat dan meminta ampun atas kesalahan besar yang kita lakukan, jangan lakukan maksiat lain! Begitu juga jangan meneruskan perbuatan maksiat, meskipun maksiat itu termasuk kecil atau sepele. Pasalnya, maksiat kecil yang terus-menerus tidak ada bedanya dengan maksiat besar.
Jangan Anggap Remeh Dosa Kecil


Ketika seorang hamba menganggap remeh sebuah maksiat, bisa jadi dosanya besar di sisi Allah. Begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, kita harus menganggap semua bentuk maksiat dosanya besar. Dengan begitu, kita akan berusaha menjauh dari segala jenis perbuatan maksiat. Ibnu Mas’ud berkata:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Sungguh seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (suka maksiat), ia melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (2)
Anas bin Malik menjelaskan bahwa kebanyakan manusia melakukan maksiat dan menganggapnya hal kecil. Sedangkan para sahabat di zaman Nabi menganggap perbuatan semacam itu seperti dosa besar.
Dosa Kecil Bisa Jadi Besar Jika Dipamerkan
Di akhir zaman ini, banyak sekali orang yang bangga bahkan memamerkan dosanya. Padahal Rasulullah bersabda:
لُّ أُمَّتِي مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antaranya adalah seseorang yang melakukan maksiat di malam hari, tapi ia sendiri yang bercerita (tentang dosanya) di pagi hari.” (3)
Padahal, Allah sudah menutupi aib atau dosanya. Sayangnya, ia sendiri yang membuka dan menyebarluaskannya. Dosa seperti itu akan menjadi besar meski sejatinya sepele dan kecil.
Dosanya Orang ‘Alim yang Jadi Panutan Orang Banyak
Jika seseorang yang bukan siapa-siapa melakukan dosa kecil, mungkin tidak akan berdampak besar. Tapi jika yang melakukannya adalah orang ‘alim yang menjadi panutan masyarakat, bisa jadi dampaknya akan sangat besar. Rasulullah bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa melakukan keburukan dan diamalkan orang setelahnya, maka dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (4)
Maka, seorang ‘alim yang menjadi panutan umat, ia harus menjauhi maksiat sekecil apapun. Jika sudah terlanjur melakukannya, ia harus menyembunyikannya.
Referensi:
(1) Dhoiful Jaami’ 6308
(2) Sahih al-Bukhari 6308
(3) Sahih Muslim 2990
(4) Sahih Muslim 1017































