Buku Usman Janatin dan Harun Tohir

0
80
Buku Usman Janatin dan Harun Tohir

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir secara garis besar menceritakan hubungan Indonesia dan Malaysia pernah memasuki masa penuh ketegangan yang memuncak pada periode konfrontasi. Perselisihan dua negara serumpun ini berawal dari rencana pembentukan Federasi Malaysia yang digagas Inggris pada awal 1960 an. 

Review Buku Usman Janatin dan Harun Tohir

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir cocok untuk pembaca yang tertarik pada sejarah perjuangan Indonesia. Buku ini relevan bagi mahasiswa sejarah yang ingin memahami dinamika politik regional pada era konfrontasi. Guru dan peneliti juga dapat memanfaatkan buku ini sebagai sumber rujukan yang kaya konteks. 

Selain itu, pembaca umum yang menyukai kisah kepahlawanan akan menemukan inspirasi dari keberanian dua tokoh muda ini. Buku ini penting bagi siapa pun yang ingin melihat hubungan Indonesia dan Malaysia dari sudut pandang perjuangan nasional serta nilai pengorbanan demi bangsa.

Ada beberapa poin yang membuat buku karya Arif Saefudin ini layak Sobat baca:

1. Gerakan Ganyang Malaysia

Presiden Sukarno menolak rencana tersebut karena menilai proyek itu sebagai bentuk baru dari neokolonialisme dan neoimperialisme. Penolakan tersebut membuat dinamika politik kawasan berubah drastis. 

Indonesia kemudian mengerahkan seluruh potensinya untuk menentang rencana federasi tersebut melalui sebuah gerakan besar bernama Ganyang Malaysia. Ketegangan meningkat ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Dwi Komando Rakyat atau Dwikora. 

Komando itu berisi instruksi untuk menggagalkan berdirinya negara yang dianggap sebagai boneka kekuatan asing. Meski tidak pernah dideklarasikan sebagai perang resmi, konfrontasi berjalan sangat intens di berbagai lini. Selain operasi militer, perjuangan diplomasi juga dilakukan untuk menekan posisi lawan. 

2. Sorotan Kebijakan Presiden Soekarno

Melalui buku Usman Janatin dan Harun Tohir memperlihatkan banyak pihak menilai langkah Presiden Soekarno ini sebagai confrontation diplomacy. Frederick P. Bunnel menggambarkan kebijakan itu sebagai perpaduan gerakan yang berani, cerdik, dan sulit diprediksi.

Strategi tersebut pernah berhasil ketika Indonesia menekan Belanda untuk menyerahkan Irian Barat. Namun, skenario serupa tidak menghasilkan keberhasilan penuh dalam menghadapi Malaysia. Konfrontasi akhirnya mereda setelah kekuasaan beralih dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto pada 1966. 

3. Peristiwa Supersemar

Surat Perintah 11 Maret kemudian menjadi penanda penting transisi tersebut. Seiring perubahan politik, arah kebijakan luar negeri pun mengalami penyesuaian sehingga mengakhiri ketegangan panjang. Di tengah tahap akhir konfrontasi itu, muncul dua sosok yang kemudian dikenal sebagai pahlawan. 

Mereka adalah Janatin atau Usman bin Haji Muchamad Ali dan Tohir atau Harun bin Said. Keduanya merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut yang menjadi sukarelawan Dwikora. Kedua prajurit tersebut berangkat menjalankan tugas negara dengan penuh keyakinan. 

Buku Usman Janatin dan Harun Tohir mengungkap jiwa patriotisme yang mereka miliki membuat mereka siap menghadapi risiko apa pun. Usman dan Harun kemudian menjalankan misi khusus yang berkaitan dengan operasi sabotase. Tindakan mereka dilakukan atas dasar tugas resmi negara dalam situasi konfrontasi.

Namun nasib keduanya berakhir tragis ketika operasi itu terungkap. Mereka tertangkap dan kemudian mendapatkan hukuman berat oleh otoritas Malaysia. Meski begitu, keteguhan mereka dalam menjalankan tugas membuat nama keduanya dihormati sebagai pahlawan Dwikora. 

Kisah dalam buku Usman Janatin dan Harun Tohir menjadi simbol pengabdian tanpa batas dalam situasi politik yang sarat konflik. Semangat mereka juga mengingatkan bahwa setiap fase sejarah membawa pengorbanan besar dari putra terbaik bangsa.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY