Batas Akhir Sholat Isya sesuai Al-Quran dan Hadits

0
62
Batas akhir sholat Isya

Batas akhir sholat Isya – Salat Isya adalah salat wajib terakhir dari lima salat harian yang harus dilakukan oleh umat Islam. Mengetahui waktu yang tepat untuk melaksanakan salat Isya adalah penting, termasuk batas akhirnya. Berikut adalah panduan lengkap mengenai batas akhir sholat Isya serta dasarnya dalam Islam.

Kapan Batas Akhir Sholat Isya?

‘Isya’ adalah nama yang diberikan untuk waktu ketika langit mulai gelap setelah maghrib hingga sepertiga awal malam. Shalat ‘isya’ dinamakan demikian karena dilakukan pada waktu tersebut.

Waktu salat Isya dimulai setelah hilangnya mega merah (syafaq ahmar) di langit. Hal ini berdasarkan ijma’ ulama yang menyatakan bahwa hilangnya mega merah merupakan tanda dimulainya waktu Isya.

Menurut buku Tanya Jawab Islam karya PISS KTB, Tim Dakwah Pesantren, waktu sholat Isya dimulai ketika mega merah di langit telah hilang. Buku tersebut mengutip kitab Kifayatul Akhyar sebagai referensi.

Waktu akhir jawaz sholat Isya adalah saat munculnya fajar kedua (fajar shodiq), yang ditandai dengan cahaya melintang di sepanjang ufuk timur. Waktu ini menandakan dimulainya waktu sholat Subuh.

Sejalan dengan pandangan tersebut, buku “Waktu Sholat (Kajian Fiqih dan Astronomi)” menyatakan bahwa waktu sholat Isya dimulai saat cahaya merah dari matahari hilang setelah terbenamnya di cakrawala. Waktu akhir sholat Isya adalah ketika waktu Subuh dimulai.

Menurut asumsi ahli hisab, pada saat itu posisi matahari berkisar antara -18 derajat hingga -15 derajat dari ufuk barat. Perlu dicatat bahwa waktu paling akhir untuk sholat sebelum berganti ke sholat lain disebut sebagai jawaz.

Hadits yang Menjelaskan Batas Waktu Salat Isya

Batas waktu shalat Isya telah dijelaskan dalam beberapa hadis. Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَسْقُطَ الشَّفَقُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعِشَاءَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

Artinya: “Apabila kalian telah salat Magrib, maka itu waktunya, sampai hilang warna merah di ufuk barat. Lalu setelah kalian salat isya, itulah waktunya, sampai pertengahan malam,” (HR. Muslim 1416).

Rasulullah SAW juga pernah menjelaskan batasan waktu salat secara praktik. Dalam hadis dari Anas bin Malik RA, beliau menceritakan:

أَخَّرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ صَلَّى

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan salat isya sampai pertengahan malam, kemudian beliau salat,” (HR. Bukhari 572)

Beliau menyebut orang yang menyia-nyiakan salat adalah mereka yang menunda salat sampai datang waktu salat berikutnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى

Artinya: “Yang dimaksud menyia-nyiakan salat adalah mereka yang tidak salat sampai datang waktu salat berikutnya,” (HR. Muslim 1594 dan Ibnu Hibban 1460).

Penjelasan Hadits Mengenai Batas Akhir Salat Isya

Dari riwayat hadits-hadits di atas, ada pandangan-pandangan tertentu dari beberapa ulama mengenai batas akhir salat isya, yaitu sebagai berikut.

1.     Saat Fajar Shodiq

Batas waktu shalat Isya menurut pandangan pertama adalah saat terbitnya Fajar Shodiq. Pendapat ini merupakan pandangan dari mazhab Hanafi.Pendapat ini juga diikuti oleh sebagian ulama mazhab Syafi’i, tetapi tidak begitu dikenal di kalangan ulama mazhab Maliki.

Fajar Shodiq adalah fenomena dimana cahaya matahari terhambur oleh partikel di udara yang mengelilingi bumi, menyebabkan penampakan terang. Ini adalah saat peralihan dari kegelapan malam menjadi munculnya cahaya.

Batas akhir sholat Isya

Dalam Al-Qur’an, fenomena tersebut diungkapkan sebagai “terangnya bagi kalian benang putih dari benang hitam”. Oleh karena itu, fajar shodiq merujuk pada cahaya fajar yang terlihat melintang di sepanjang ufuk timur sebagai tanda akhir malam atau mendekati matahari terbit.

2.     Saat Sepertiga Malam

Batas waktu shalat Isya menurut pandangan kedua adalah saat sepertiga malam. Pendapat ini umum dianut dalam mazhab Maliki.

Pendapat ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dimana Rasulullah SAW bersabda: “Jika tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk menunda shalat Isya hingga sepertiga malam atau pertengahan malam.” (HR. At-Tirmidzi no.167 dan Ibnu Majah no.691, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no.565).

3.     Boleh Lewat dari Sepertiga Malam Apabila Ada Uzur

Menurut pendapat ketiga, batas waktu shalat Isya terbagi menjadi dua periode. Pertama adalah waktu ikhtiyari, dimulai dari hilangnya cahaya merah di ufuk barat hingga sepertiga pertama malam atau tengah malam.

Kedua adalah waktu dharuri, atau sering disebut juga sebagai waktu jawaz (toleransi), menurut beberapa pendapat. Bagi seorang muslim dalam keadaan normal, disarankan untuk melaksanakan shalat Isya selama periode waktu ikhtiyari.

Namun, ia tidak diperbolehkan melakukannya di waktu dharuri atau waktu jawaz, kecuali jika ada uzur. Uzur adalah halangan yang menghalangi seseorang untuk menjalankan ibadah, namun masih mendapat pengampunan dari Allah SWT.

Uzur ini biasanya tidak disengaja dan masih diampuni oleh Allah SWT, asalkan tidak menjadi kebiasaan. Salah satu contoh uzur yang dialami umat Islam adalah tertidur ketika masuk waktu shalat wajib.

Akibatnya, seseorang dapat melewatkan waktu shalat tersebut hingga waktu shalat berikutnya tiba. Ketika seseorang bangun dari tidur, ia diharapkan segera melaksanakan shalat Isya.

Hal tersebut sesuai dengan sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

Artinya: “Jika seorang di antara kalian tidur hingga salat terlewatkan, atau lupa salat, hendaklah ia salat ketika mengingatnya,” (HR. Muslim no. 684).

Selain itu, menurut pandangan Syafi’i dan Hambali, seseorang yang tidak mengetahui hukum suatu perbuatan tidak akan dikenai beban uzur. (at-Tarjih fi Masail Thaharah wa Shalat, 132–138).

Dalam al-Mustau’ib dinyatakan:

Artinya: “Waktu batas salat Isya sampai sepertiga malam. Dan ada riwayat darinya, sampai tengah malam. Dan sisanya waktu jawaz dan dharurat sampai terbit fajar subuh,” (al-Mustau’ib, 1/125).

Memang ada beberapa pandangan atau pendapat yang berbeda mengenai batas akhir sholat isya. Meskipun begitu p elaksanaan Salat Isya sebaiknya dilakukan sebelum tengah malam untuk mengikuti sunnah dan meraih keutamaan. Hal ini tidak lain karena melaksanakan salat pada waktunya adalah tanda ketaatan dan keimanan seorang muslim.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY