Adab Berpacaran dalam Islam yang Tidak Melanggar Syariat

0
735
Adab pacaran dalam islam sesuai syariat

Adab Berpacaran dalam Islam – Sobat Cahaya Islam, cinta adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam hati setiap manusia. Rasa suka antara laki-laki dan perempuan adalah hal alami yang sering kali tumbuh seiring waktu dan kedekatan. Namun, dalam Islam, semua perasaan itu diarahkan dan dibingkai dalam koridor syariat agar tidak menjadi pintu kemaksiatan. Salah satunya adalah bagaimana Islam mengatur interaksi antara dua insan yang saling tertarik, atau yang sering kita sebut dengan istilah “pacaran”.

Islam Tidak Melarang Cinta, Tapi Menjaga Jalan Menujunya

Islam bukan agama yang membunuh rasa. Selain itu, Islam juga tidak melarang cinta. Tetapi, Islam mengajarkan bagaimana cinta itu harus kita jaga, kita sucikan, dan kita arahkan menuju ridha Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (1)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala bentuk aktivitas yang mendekati zina, termasuk berduaan, chatting mesra tanpa tujuan yang jelas, atau berpacaran bebas seperti yang banyak terjadi di masa kini.

Adab Berpacaran dalam Islam Sesuai Syariat

Sobat Cahaya Islam, menyukai seseorang tidaklah berdosa. Yang menjadi masalah adalah saat rasa suka itu menjerumuskan kita dalam perbuatan yang dilarang syariat. Oleh karena itu, berikut adalah adab Islami ketika kita mulai menyukai seseorang:

  1. Jaga Pandangan
    Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan. Pandangan yang dijaga akan menjaga hati dari khayalan yang berlebihan.
  2. Hindari Khalwat (Berduaan)
    Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali bersama mahramnya.” (2)

  1. Komunikasi Seperlunya dan Berniat Serius
    Jika memang ada niat baik untuk menikah, maka sebaiknya melibatkan orang tua dan berbicara secara jelas tentang niat tersebut. Tidak ada istilah “pacaran” dalam Islam, tapi yang ada adalah ta’aruf – saling mengenal dalam koridor syar’i.
  2. Jangan Mengumbar Perasaan Sebelum Halal
    Mengumbar rasa suka bisa menjadi senjata syaitan untuk membisikkan harapan palsu. Islam menganjurkan untuk menjaga hati hingga tiba waktunya yang sah, yaitu setelah akad nikah.

Cinta Halal Itu Indah dan Tenang

Cinta yang tumbuh dalam bingkai pernikahan adalah cinta yang membawa keberkahan. Tidak ada rasa khawatir berdosa, tidak ada rasa takut tertolak oleh Allah. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan untuk mempercepat pernikahan jika memang sudah siap:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ

“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah.” (3)

Jika belum mampu, maka Rasulullah ﷺ memberikan solusi:

فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“…Maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya.” (4)

Penutup: Cinta Itu Ujian, Jangan Gagal Menjawabnya

Sobat Cahaya Islam, cinta itu ujian. Apakah kita mampu menjaga rasa itu dalam jalur halal, ataukah kita tergelincir dalam hawa nafsu yang menjerumuskan pada dosa? Pacaran dalam pengertian umum saat ini banyak membuka pintu syaitan dan menjauhkan kita dari Allah. Maka, mari kita jaga diri, jaga hati, dan arahkan cinta kepada jalan yang diridhai.

Semoga kita semua diberikan pasangan yang terbaik di waktu yang terbaik dengan cara yang Allah sukai. Aamiin.


Referensi:

(1) QS. Al-Isra’: 32

(2) HR. Bukhari no. 5233

(3) HR. Bukhari no. 5065

(4) HR. Bukhari no. 5066

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY