Akademisi Muhammadiyah – Dunia kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari persoalan nyata masyarakat. Pesan inilah yang mengemuka dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atau UMY. Akademisi Muhammadiyah harus dekat dengan permasalahan yang ada di masyarakat.
Pesan Penting Agar Akademisi Muhammadiyah Lebih dengan Realitas
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan pentingnya peran akademisi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah atau PTMA. Akademisi Muhammadiyah sebaiknya selalu hadir lebih dekat dengan realitas sosial. Menurut Haedar, intelektualitas para akademisi tidak cukup hanya berhenti pada penguasaan teori.
Pengetahuan yang mereka harus mampu membaca persoalan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat. Contohnya mulai dari isu politik, ekonomi, hukum, budaya, hingga agama yang dekat dengan masyarakat. Jika akademisi terlalu berjarak dari kenyataan, maka cara pandang terhadap masalah berisiko menjadi dangkal.
Akibat lainnya yakni temuan ilmiah yang mereka hasilkan tidak menyentuh kebenaran objektif. Ia menyampaikan hal tersebut dalam agenda Orasi Ilmiah Guru Besar Prof. Ridho Al Hamdi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis, 16 April 2026.
Pendekatan Holistik untuk Membaca Masalah Bangsa
Haedar menilai, berbagai persoalan bangsa saat ini tidak bisa dipahami hanya dari satu cabang ilmu. Kompleksitas masalah menuntut pendekatan yang lebih menyeluruh atau holistik integratif. Sebagai contoh, dalam melihat persoalan politik, menurutnya membutuhkan perspektif lintas disiplin agar hasil kajian tidak parsial.
Politik tidak hanya dapat dibaca dari sisi kekuasaan, tetapi juga harus berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, bahkan nilai keagamaan. Melalui pendekatan yang akademisi Muhammadiyah yang integratif, temuan akademik akan lebih mendekati kebenaran dan mampu memberi arah bagi kehidupan berbangsa.
Haedar juga menegaskan bahwa akademisi Muhammadiyah tidak perlu bersikap anti terhadap teori-teori dari Barat. Namun, seorang ilmuwan harus cermat dalam memilih pendekatan yang relevan dengan konteks Indonesia.
Ia juga mengapresiasi berkembangnya epistemologi dekolonialisasi, yakni cara pandang ilmu yang berupaya mengambil jarak dari teori-teori yang masih membawa perspektif kolonial. Menurutnya, kondisi sosial, budaya, dan sejarah Barat tentu berbeda dengan Indonesia, sehingga tidak semua teori bisa diterapkan secara mentah.
Guru Besar Muhammadiyah sebagai Penyeimbang Kebijakan
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menekankan peran strategis guru besar di lingkungan PTMA. Menurutnya, para akademisi Muhammadiyah senior harus hadir sebagai penyeimbang kebijakan publik. Terutama di tengah keputusan politik yang seringkali didasarkan pada pertimbangan praktis dan pragmatis.


Haedar berpendapat bahwa bangsa ini membutuhkan sosok intelektual yang tidak hanya cerdas secara akademik. Negara ini juga membutuhkan sosok intelektual yang memiliki kebijaksanaan dalam membaca arah perkembangan global.
Ia menyoroti kondisi dunia yang semakin dipengaruhi oleh akal imitasi atau kecerdasan. Menurutnya berpotensi membuat manusia kehilangan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Di tengah situasi global yang penuh ketegangan, mulai dari konflik antar negara hingga ancaman perang, peran guru besar menjadi semakin penting. Harapannya mereka mampu memberi kontribusi bukan hanya dalam aspek kegunaan ilmu, tetapi juga dalam nilai kebenaran, kebaikan, dan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan misi Muhammadiyah untuk menghadirkan Islam berkemajuan yang membawa manfaat luas bagi kehidupan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.































