Bahaya Lupa Bersyukur – Sobat Cahaya Islam, setiap hari Allah ﷻ mencurahkan nikmat kepada kita. Mulai dari udara yang kita hirup, makanan yang kita nikmati, hingga iman yang menghiasi hati. Namun, tidak semua orang mampu mengingat untuk bersyukur. Padahal, melupakan syukur dapat menjadi awal bencana dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Lupa Bersyukur, Lupa Diri
Ketika seseorang menerima kenikmatan, tapi tidak mengiringinya dengan rasa syukur, maka ia telah membuka pintu kesombongan. Ia mengira bahwa semua itu hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa izin Allah, tak satu pun nikmat bisa sampai kepadanya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.” (1)
Sobat Cahaya Islam, melupakan syukur membuat seseorang lupa daratan. Ia merasa hebat, kuat, dan tak butuh siapa pun. Akhirnya, nikmat yang seharusnya mendekatkan dirinya kepada Allah malah menjauhkannya dari jalan yang benar. Inilah awal dari kehancuran.
Bahaya Lupa Bersyukur Nikmat Bisa Dicabut
Allah ﷻ tidak pernah membutuhkan syukur kita. Justru kita yang membutuhkan kemurahan-Nya agar nikmat terus mengalir. Jika kita lalai bersyukur, Allah berhak mencabut nikmat tersebut, bahkan menggantinya dengan kebalikan.
Allah ﷻ telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan: Sungguh, jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tapi jika kalian kufur (tidak bersyukur), sungguh azab-Ku sangat pedih.” (2)
Sobat Cahaya Islam, betapa besar kemurahan Allah. Dengan bersyukur, nikmat bertambah. Tapi jika lupa bersyukur, jangan kaget jika kenikmatan itu berubah menjadi musibah. Berapa banyak orang yang kehilangan harta, jabatan, atau kesehatan hanya karena ia terlalu terlena dan lupa berterima kasih kepada Sang Pemberi.
Hati yang Kering, Hidup yang Gelap
Bahaya lupa bersyukur tidak hanya terlihat dari sisi duniawi. Secara batin, hati pun akan terasa kering dan gelap. Orang yang tidak bersyukur selalu merasa kurang. Ia gelisah, iri pada orang lain, dan sulit merasa puas.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada yang di atas kalian. Karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian.” (3)
Sobat Cahaya Islam, hadits ini mengajarkan cara menjaga hati agar tetap bersyukur. Jika kita hanya menatap ke atas, ke arah yang lebih kaya, lebih sukses, lebih populer, maka syukur akan sulit tumbuh. Tapi jika kita melihat ke bawah, kepada mereka yang kekurangan, hati kita akan tergerak untuk bersyukur dan berempati.
Syukur Itu Penjaga Iman


Iman tidak hanya berdiri di atas sabar, tapi juga di atas syukur. Orang yang bersyukur akan lebih mudah menerima takdir, lebih kuat menjalani cobaan, dan lebih ikhlas dalam beramal. Sebaliknya, orang yang lupa bersyukur rentan putus asa dan gampang mengeluh.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Iman itu terdiri dari dua bagian: separuh sabar, separuh lagi syukur.”
Sobat Cahaya Islam, mari kita jaga nikmat yang telah Allah berikan dengan memperbanyak syukur. Jangan sampai kita baru sadar ketika semuanya telah Allah ambil. Bersyukurlah dalam hati, dalam ucapan, dan dalam amal. Karena dengan itulah hidup menjadi tenang, berkah, dan diridhai Allah ﷻ.
Referensi:
(1) QS. An-Naḥl: 53
(2) QS. Ibrāhīm: 7
(3) HR. Muslim no. 2963































