Kenapa Shalat Tidak Mencegah Maksiat? Apakah Al-Ankabut 45 Tidak Terbukti?

0
717
Kenapa Shalat Tidak Mencegah Maksiat

Kenapa Shalat Tidak Mencegah Maksiat – Shalat adalah salah satu rukun Islam, terdiri dari serangkaian gerakan, bacaan, dan bahkan mencakup dimensi spiritual. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa shalat dapat menjauhkan orang yang melaksanakannya dari perbuatan yang keji dan munkar.

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sungguh shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (1)

Yang jadi masalah, kenapa masih saja banyak orang yang shalat namun masih sering berbuat maksiat? Lalu, di mana letak kesalahannya, apakah itu orangnya atau pelaksanaan shalatnya? Tentu saja, letak kesalahannya bukan pada shalatnya, apalagi ayatnya.

Kenapa Shalat Tidak Mencegah Maksiat? Karena Tidak Khusyuk!

Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan:

 وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

“Dan dirikanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk.” (2)

Masalahnya, banyak orang Islam yang shalat, tapi tidak dengan kehusyukan. Terbukti kita bisa melihat ummat muslim shalat dengan tergesa-gesa. Atau, mereka shalat tapi pikirannya ke mana-mana. Tentu saja, ini bukan shalat yang Allah inginkan karena Allah menginginkan hamba-Nya shalat dalam keadaan khusyuk, sebagaimana perintah dalam ayat Al-Qur’an di atas.

Memang, tidak mudah untuk menjaga kekhusyukan dalam shalat. Namun, kita bisa melatihnya setiap hari hingga kekhusyukan itu benar-benar muncul ketika shalat. Shalat yang khusyuk akan membuat hati bersih sehingga tidak terpikirkan untuk melakukan maksiat.

Shalat Tapi Tidak Mengingat Allah

Ketika kita sedang shalat, seharusnya yang kita ingan hanya Allah, bukan hal lainnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (3)

Faktanya, banyak orang shalat tapi memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi seperti keluarga, harta benda, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini sudah keluar dari esensi shalat itu sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai hati dan pikiran kita masih memikirkan duniawi ketika sedang menghadap Allah dalam shalat.

Bahkan, mengingat Allah tidak hanya wajib ketika shalat saja, melainkan dalam setiap keadaan dan waktu, termasuk saat kita duduk bersantai bahkan berbaring ketika hendak tidur sekalipun. Dengan selalu mengingat Allah, seorang muslim tidak akan berani punya niat berbuat dosa, apalagi sampai melakukannya.

Tidak Hadirnya Hati Ketika Shalat

Salah satu rukun shalat adalah niat dan tempat niat adalah di dalam hati. Oleh karena itu, seorang muslim harus benar-benar menghadirkan hatinya dalam shalat, bukan hanya sekedar melakukan serangkaian gerakan dan bacaan shalat.

Ketika seseorang berhasil menghadirkan hatinya dalam shalat, ia akan benar-benar meresapi setiap gerakan dan bacaan shalat ke dalam hatinya. Dengan begitu, hatinya akan bersih dan tidak mudah tergoda setan untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Kesimpulannya, shalat tidak hanya melibatkan aspek lahiriah, tapi juga batiniah. Jika kedua aspek itu sudah terpenuhi, maka kesempurnaan shalat akan tercapai. Lalu, timbullah kekuatan untuk menjauhi perbuatan yang keji dan munkar.


Referensi:

(1) Q.S. Al-Ankabut: 45

(2) Q.S. Al-Baqarah: 238

(3) Q.S. Ali-Imran: 191

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY