Penangkapan Pavel Durov Karena Konten Kejahatan di Telegram, Pentingnya Penerapan Etika Sosmed

0
892
Penangkapan Pavel Durov

Penangkapan Pavel Durov – Telegram sudah menjadi salah satu di antara ribuan media sosial yang populer di seluruh dunia. Namun baru-baru ini heboh berita penangkapan pendiri sekaligus CEO platform tersebut, yakni Pavel Durov.

Sontak saja, berita penangkapan sang CEO ramai dibicarakan publik. Banyak orang yang bertanya-tanya alasan penangkapan CEO Telegram satu ini. Bahkan beredar kabar bahwa Durov sudah berada di dalam bui.

Alasan Penangkapan Pavel Durov

Menurut informasi yang tersebar, alasan penangkapan Pavel Durov berkaitan dengan kurangnya filter konten di Telegram. Hal itulah yang kemudian menjadikan indikasi keterlibatan Durov dalam penipuan, pelanggaran kejahatan anak, dan perdagangan narkoba.

Berdasarkan informasi sebuah sumber, di platformnya, Durov membiarkan kejahatan dan pelanggaran dalam jumlah banyak. Hal itu terus terjadi tanpa ada tindakan apapun untuk moderasi ataupun kerja sama.

Terbukti sampai saat ini, sangat mudah menemukan konten terkait kejahatan biasa sampai terorganisasi di Telegram. Bahkan seorang penyelidik mengungkap, platform tersebut sudah menjadi platform kejahatan terorganisir nomor satu.

Lebih lanjut, penyelidik juga mengatakan bahwa Durov nantinya berakhir di penahanan pra persidangan.

Keberadaan Media sosial dalam Pandangan Islam

Sobat Cahaya Islam, sejatinya penangkapan Pavel Durov merupakan bukti penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab. Sebab media sosial sendiri adalah bentuk kemajuan teknologi yang memudahkan banyak orang berkomunikasi.

Dengan adanya media sosial, orang-orang mudah saling terhubung satu sama lain. Mereka pun juga lebih mudah dalam bertukar informasi, ide, dan menciptakan hal baru meskipun belum pernah bertemu sebelumnya.

Penangkapan Pavel Durov

Dalam agama islam, media sosial sepatutnya dimanfaatkan untuk syiar atau penyebaran amar ma’ruf nahi munkar. Dengan begitu, besar harapan penyebaran nilai positif agama islam bisa lebih mudah.

Apalagi, jumlah pengguna media sosial seperti Telegram, Instagram, WhatsApp, dan lainnya semakin meningkat di setiap tahunnya. Sayangnya peningkatan tersebut tidak menjamin tersebarnya hal positif.

Terbukti, di Telegram justru banyak orang yang saling menipu, atau membagikan konten negatif. Inilah mengapa sangat penting menerapkan etika bermedia sosial sesuai ajaran islam.

Apa Saja Etika Bermedia sosial dalam Islam?

Lantas, seperti apa etika bermedia sosial yang sesuai ajaran islam? Sobat bisa memahaminya berikut ini.

1. Senantiasa Menjaga Lisan

Etika yang pertama adalah selalu menjaga lisan dan kata-kata dalam bermedia sosial. Sebagai seorang muslimin, Sobat harus menjaga tutur katanya termasuk saat menggunakan media sosial.

Jangan sampai perkataan Sobat lewat media sosial menyakiti atau berkata yang tidak baik dan tak sesuai ajaran agama.

2. Tidak Menyebarkan Berita Palsu dan Kebencian

Penyebaran berita palsu dan ujaran kebencian masuk ke dalam akhlak tercela. Padahal agama islam selalu mengajarkan umatnya untuk selalu jujur dan menyebarkan hal-hal positif. Allah SWT berfirman,

 اِنَّمَا يَفۡتَرِى الۡـكَذِبَ الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ‌ۚ وَاُولٰۤٮِٕكَ هُمُ الۡكٰذِبُوۡنَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” 1

3. Bersikap Tabayyun

Sebagai muslimin, Sobat juga harus bersikap tabayyun dalam menerima setiap berita atau informasi. Hal tersebut sangat penting guna meminimalisir kesalahan berita atau informasi yang tak dapat dipertanggung jawabkan.

Allah SWT pun mengingatkan langsung dalam Al Qur’an, tepatnya di ayat,

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 2

Sobat Cahaya Islam, itulah bagaimana etika yang benar dalam bermedia sosial. Seharusnya tak hanya Pavel Durov, karena penyebar konten juga perlu mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia dan akhirat kelak. 


  1. (QS. An-Nahl Ayat 105) ↩︎
  2. (QS. Al-Hujurat [49]:6) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY