Hukum tidak memaafkan seseorang – Sobat Cahaya Islam, adakalanya memaafkan seseorang menjadi begitu sulit. Apalagi jika kesalahannya sedemikian fatal dan orang tersebut selalu mengulanginya. Bagaimana sebaiknya jika sulit memaafkan? Apakah hukum tidak memaafkan seseorang dalam Islam?
Perkara maaf-memaafkan seringkali dianggap remeh dan tidak penting. Namun realitanya ada saja persoalan-persoalan yang timbul karena sebab ini. Karenanya penting bagi umat Islam untuk mengetahui hal-ihwal memaafkan dan hukumnya menurut syariat.
Dalil Memaafkan dalam Islam
Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya Sobat menyimak lebih dahulu dalil-dalil mengenai memaafkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
1. Surat Ali Imran ayat 133 dan 134
Ayat tersebut bermakna, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di saat lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
2. Surat An-Nahl ayat 126
Makna ayat tersebut yakni, “Dan jika kamu melakukan pembalasan maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang diberikan kepadamu. Namun bila kamu bersabar, sungguh itu yang lebih baik untuk orang-orang yang sabar.”
3. Surat Asy-Syuura ayat 40
Arti ayat tersebut adalah, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (jaminan) Allah. Sungguh Dia tidak suka kepada orang-orang yang zalim.”
4. Hadits Muslim no. 2587
Sabda Nabi Muhammad saw, “Dua orang yang saling mencaci maka apa yang dikatakan oleh mereka berdua dosanya kembali kepada yang memulainya, selagi pihak yang dicaci (dizalimi) tidak melampaui batas.”
Maksudnya korban tidak membalas melebihi pelakunya. Jika seseorang mencaci fulan, “kamu tidak punya teman”. Lantas fulan membalas, “kamu juga tidak punya teman”. Itulah maksud dari tidak melampaui batas. Yakni membalas dengan perbuatan yang serupa dan tidak melebihinya.
Hukum Tidak Memaafkan Seseorang dalam Islam
Sobat Cahaya Islam, dalil-dalil di atas menunjukkan bolehnya membalas kezaliman seseorang asalkan bukan dia yang memulai. Namun jika melakukan pembalasan, seorang muslim tidak mendapatkan pahala. Apabila mengharapkan pahala dan kedudukan yang mulia maka hendaklah dia memaafkan saudaranya.


Di samping itu seseorang memiliki hak untuk menuntut kezaliman yang berkaitan dengan harta dan kehormatannya. Begitu juga dengan ejekan atau siksaan fisik. Jadi hukum tidak memaafkan kesalahan orang lain adalah boleh.
Keutamaan Memaafkan
Walaupun seseorang boleh membalas kezaliman tetapi yang lebih utama adalah perilaku pemaaf. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba-Nya yang pemaaf dan menjamin untuknya pahala. Apalagi jika saudaranya mengakui kesalahannya dan meminta maaf maka memberikan maaf adalah lebih utama.
Memaafkan adalah akhlak yang mulia. Bahkan para Nabi dan Rasul juga memiliki sifat pemaaf. Misalnya saja Nabi Yusuf as yang memaafkan saudara-saudaranya yang pernah membuangnya ke dalam sumur. Perbuatan ini menyebabkan beliau terpisah dari keluarga tetapi Nabi Yusuf tetap memaafkan mereka semua dan berbuat baik.
Begitu juga Nabi Muhammad saw yang memaafkan seluruh penduduk Makkah yang selalu memerangi beliau. Pada saat Fathu Makkah, beliau dan para sahabat memasuki kota dengan kedamaian. Semua orang mendapatkan maaf dari Nabi Terakhir yang mulia.
Adakah Amalan yang Lebih Baik daripada Memaafkan?
Ternyata masih ada amalan yang lebih mulia daripada memaafkan kesalahan. Yakni membalas perbuatan buruk orang lain dengan kebaikan. Perbuatan seperti ini mampu menyelamatkan dari gangguan setan, menundukkan musuh, dan mengubahnya menjadi teman yang sangat setia.


Hal ini sesuai dengan perintah Allah Ta’ala untuk bersabar ketika marah, menghadapi orang bodoh dengan kelembutan, dan memaafkan perbuatan buruk orang lain. Amalan seperti ini tentulah tidak mudah tetapi pahala dari Allah menanti. Orang-orang yang bisa melakukannya hanyalah mereka yang sabar.
Demikian, Sobat Cahaya Islam, pembahasan mengenai hukum tidak memaafkan seseorang. Kadang membalas perbuatan buruk orang lain memang tidak perlu. Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan balasan untuk setiap perbuatan baik maupun buruk, walaupun perbuatan yang sekecil zarrah.































