Kisah Ketegaran Siti Maryam Menghadapi Banyak Ujian

0
3050
Ketegaran Siti Maryam

Ketegaran Siti Maryam – Al-Qur’an menyebutkan Maryam merupakan putri dari Imran dan Hannah binti Faquz. Mereka merupakan keturunan dari nabi Daud Alahissalam. Melalui artikel ini, akan kami bahas bagaimana ketegaran SIti Maryam dalam menghadapi berbagai cobaan dari Allah.

Keteguhuannya, akan sangat sulit kita tiru. Karena sungguh, cobaan yang Allah berikan akan sulit diterima oleh manusia biasa dengan keimanan yang lemah. Lalu, bagaimana kisah ketegaran SIti Maryam ini berlangsung?

Kisah Ketegaran Siti Maryam

Siti Maryam bint Imran, merupakan seorang gadis yang berasal dari keluarga baik lagi bersih dari kalangan Bani Israil. Hingga tumbuhlah Maryam sebagai seorang wanita yang ahli ibadah, karena terkenal mencurahkan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah dan tidak menikah.

Ia juga Allah berikan kekuatan untuk beribadah serta berkhidmat mengurusi Masjidil Aqsa. Hal ini sesuai dengan perjanjian yang dilakukan oleh Hannah selaku ibu dari Maryam.

 Ia menyerahkan anaknya untuk berkhidmat dan terus beribadah kepada Allah, padahal saat itu ia belum tahu jika anak yang berada dalam kandungan merupakan seorang anak perempuan. Terdapat dalam surah Ali Imran ayat 36.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.” (Ali Imran: 36).

Kehidupan Siti Maryam memang ia habiskan untuk beribadah dan berkhidmat pada Allah. Sampai Allah pun menganugerahkan nabi Isa melalui rahimnya yang suci, tanpa seorang ayah. Malaikat Jibrillah yang saat itu Allah perintahkan untuk menyampaikan berita ini pada Maryam. terdapat dalam surah Maryam ayat 19.

“Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.” Jibril menyadari ketakutan Maryam. Dia lalu memperkenalkan diri dan berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu yang menjaga dan melindungimu.” (QS. Maryam: 19)

Mendengar dirinya akan mengandung seoang anak laki-laki, yang kelak menjadi nabi. Membuatnya merasa bingung dan heran atas kejadian tersebut.

Setelah menyadari dirinya yang berbadan dua, dadanya terasa sesak. Dan karena kehamilannya yang terus bekembang membuat ia  menutup diri, untuk menjauhi prasangka buruk oranglain.

Perjuangannya untuk melahirkan nabi Isa juga begitu banyak cobaan. Karena ia ingin menymbunyikan semuanya, betapa tegar Maryam menghadapi ujian yang telah Allah berikan.

Ketika melahirkan nabi Isa, Maryam memilih tempat jauh dari pandangan oranglain. Sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat, ia melahirkan nabi Isa di bawah pohon kurma dan bersandar pada pohon tersebut. Kisah ini Allah abadikan dalam surah Maryam ayat 23.

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”(QS. Maryam: 23)

Tidak berakhir sampai di sana, setalah kelahiran tersebut Bani Israil mulai menghakimi Maryam bahkan menuduhnya sebagai seoranng pezina. Kemudian atas izin Allah, nabi Isa yang saat itu masih bayi mendapatkan mukjizat bisa berbicara dan mengatakan ia merupakan utusan Allah.

Kisah ketegaran Siti Maryam ini, sangat mengiris hati sekaligus menggugah perasaan. Ada banyak pelajaran yang dapat Sobat ambil dalam kisah ini.

Hikmah Kisah Maryam

1.       Pertolongan Allah selalu ada

Melalui kisah ini dapat Sobat ambil pelajaran, bahwa Allah Maha Penolong. Dimanapun dan kapanpun Allah mampu membrikan pertolongannya pada kita.

Ketegaran Siti Maryam

2.       Sabar membuahkan hasil

Kesabaran dan ketabahan Maryam mengandung nabi Isa tanpa seorang ayah, mampu melahirkan generasi yang luar biasa seperti nabi Isa. Dengan begitu kita dapat menyimpulkan, bahwa setiap coban dan ujian akan memberikan akhir yang bahagia.

Ketegaran Siti Maryam

Dengan mengetahui kisah ketegaran Siti Maryam, semoga mampu menigkatkan keimanan kepada Allah. Wallahu’alam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY