Pelajaran dari Ibadah Haji – Haji adalah rukun Islam yang ke lima. Setiap umat muslim pasti ingin bisa berangkat ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Bahkan, banyak orang rela menabung berpuluh-puluh tahun untuk bisa berhaji. Bukan hanya masalah mabrur, berangkat haji juga memberikan banyak Pelajaran penting bagi umat muslim yang menunaikannya.
Pelajaran dari Ibadah Haji: Belajar Ikhlas
Dalam berhaji, Allah memerintahkan kita untuk benar-benar Ikhlas dan bukan mencari sanjungan atau gelar. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata seronok dan tidak pula berbuat fasik, ia pulang ke negerinya sebagaimana saat dilahirkan ibunya.” (1)
Maksudnya, jika seseorang menunaikan ibadah ini dengan Ikhlas dan hanya mengharap Ridha Allah, maka ia bersih dari dosa seperti anak bayi yang baru lahir. Sayangnya, banyak orang yang berhaji hanya karena ingin mendapat sanjungan dan penghormatan dari orang lain. Tak sedikit pula yang hanya ingin namanya mendapatkan embel-embel gelar Haji.
Padahal, ibadah haji membutuhkan perjuangan besar, baik berupa uang maupun tenaga. Maka dari itu, jangan sampai perjuangan besar itu sia-sia hanya karena hati kita yang tidak Ikhlas karena punya niat duniawi.
Haji Mengajarkan untuk Rajin Dzikir
Sejak 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, Allah sudah memerintahkan kita untuk banyak melantunkan dzikir. Dalam ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“Dan sebutlah nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (2)
Menurut salah satu penafsiran, hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Imam Bukhari mengutip perkataan Ibnu ‘Abbas, bahwa hari-hari yang ditentukan adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq.
Selain itu, thawaf, sa’I, serta melempar jumrah juga dalam rangka dzikir. Tak hanya berdzikir, Allah juga memerintahkan kita untuk berdoa pada hari-hari tasyriq. Yang jelas, semua ini mengajarkan kita untuk lebih sering mengingat Allah (dzikir).
Ibadah Melihat dari Kemampuan


Memang, haji hukumnya wajib, tapi bagi yang mampu. Allah berfirman:
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (3)
Selain mampu secara materi, seseorang juga harus mampu secara fisik, yaitu sehat badan. Begitu juga dengan ibadah lain, seseorang wajib melaksanakan perintah Allah semampunya. Misalnya dalam shalat, seseorang boleh shalat dengan duduk jika tidak mampu berdiri, Pun begitu dalam puasa, seseorang yang sudah tua renta dan tidak mampu mengerjakan puasa boleh menggantinya dengan membayar fidyah.
Di samping Pelajaran-pelajaran di atas, masih ada lagi banyak Pelajaran di balik ibadah haji seperti belajar mengikuti tuntunan Rasulullah untuk mengorbankan harta, belajar meninggalkan larangan saat ber-ihram, menyadari bahwa capek dalam beribadah akan mendapatkan ganti pahala, hingga semangat meraih surga dengan haji mabrur.
Referensi:
(1) Sahih Bukhari 1521
(2) Q.S. Al-Hajj: 28
(3) Q.S. Ali Imran: 97
































