Memfokuskan diri Pada Tujuan Sebuah Amalan, Bukan Imbalan!?

0
453

Sobat cahayaislam pasti pernah dong dengar ungkapan “ada udang di balik batu”? Ungkapan itu berarti ada maksud lain yang tersembunyi pada suatu hal. Biasanya banyak orang cenderung mengharapkan sesuatu yang lain ketika melakukan sesuatu. Contoh gampangnya misalnya bila sobat ada yang merupakan mahasiswa atau mahasiswi di universitas, anda akan berusaha untuk aktif di kelas dan sering bertanya secara kritis dengan tujuan ingin mendapat perhatian dari dosen dan dianggap mahasiswa yang bagus. Hal itu berujung pada ekspektasi anda untuk mendapatkan nilai A dalam mata kuliah tersebut.

Nah, itulah yang disebut memiliki tujuan lain dalam suatu tindakan. Dalam islam, kita diajarkan untuk melakukan banyak hal tanpa pamrih. Boleh saja memiliki tujuan lain dalam hal-hal dan amalan yang kita kerjakan selama itu memiliki tujuan untuk ‘cari muka’ kepada Allah. Itu malah dianjurkan. Niyat membawa kita pada apa yang kita ekspektasikan. Namun sering, hal itu mengaburkan pandangan kita pada apa tujuan sebenarnya dari apa yang kita lakukan tersebut. Berikut ada sebuah kisah inspirasi yang bisa diambil hikmahnya tentang hal ini.

Kisah seorang guru agung dan murid yang bersemangat

Tersebutlah seorang guru agung yang bijaksana tinggal disebuah padepokan sederhana dan bersahaja. Sosoknya dikenal sebagai orang alim yang penuh dengan kebijaksanaan. Orang-orang yang hidup disekitarnya menghormati dan selalu menjadikannya tempat jujukan untuk ditanyai banyak hal-hal yang berhubungan dengan agama. Kebijaksanaannya terkenal hingga ke daerah-daerah lain diluar tempatnya bermukim hingga sampai ketelinga seorang pemuda.

Pemuda ini memang sedang mencari-cari cara untuk bisa menjadi seorang yang bijak pula dalam hidup. Sehingga pada akhirnya dia pergi untuk menemui orang bijak tersebut untuk berguru kepadanya. Dia pemuda yang ambisius dan sangat terbakar semangat untuk belajar kepada orang bijak tersebut. Singkat cerita setelah dia menghadap orang bijak tersebut, dia bertanya kepadanya tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kebijaksanaan seperti gurunya itu.

“setidaknya engkau perlu waktu selama lima tahun” jawab orang bijak tersebut kepadanya.

Tampak benar wajah kecut yang terselubung semangat berkobar dari pemuda tersebut. Dia kemudian berkata kepada guru bijak tersebut “lima tahun sangat lama wahai guru! bagaimana bila aku berjanji akan belajar dua kali lebih keras daripada murid lainnya?” ungkap pemuda itu dengan tegas.

“Kalau begitu engkau butuh waktu sepuluh tahun” jawab gurunya kembali dengan enteng. Pemuda itu diliputi rasa bingung.

“hmmm… bagaimana kalau saya akan berjuang dengan segenap jiwa raga baik siang maupun malam untuk belajar ilmu dari guru! Denga begitu berapa lama aku bisa menjadi bijak seperti guru?” – tanya pemuda itu kembali

“Kalau begitu engkau akan membutuhkan waktu lima belas tahun” – Jawab gurunya ringan.

“Kenapa setiap aku mengatakan akan meningkatkan usahaku dalam belajar, namun guru malah menambahkan waktu aku perlu belajar menjadi lebih lama’ tanya Pemuda itu diliputi rasa bingung.

Guru bijak tersebut kemudian berkata bahwa “jawaban dariku sangat jelas, dengan satu sisi mata terfokus pada imbalan, maka hanya tersisa satu mata saja yang terfokus pada tujuan” – ungkap Guru bijak itu menasihati.

Apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut?

Jelas dari cerita diatas kita bisa memetik hikmah bahwa untuk melakukan suatu amalan atau hal, seharusnya kita tidak mengharapkan imbalan apapun. Niyat yang benar secara ikhlas kepada Allah dalam beramal pastilah tidak akan mengaburkan kebenaran tujuan kita, yakni tujuan mendapatkan surga Allah kelak yang abadi yang kekal selama-lamanya. itulah yang harus kita pahami. Semoga menjadi manfaat yaa!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!