Urutan surah dalam Al-Qur’an – Sobat Cahaya Islam, apakah urutan surah dalam Al-Qur’an sama dengan urutan turunnya? Sebenarnya tidak demikian. Penyusunan urutan surah-surah Al-Qur’an tidak sama dengan urutannya saat turun. Ayat yang pertama kali turun adalah Surah Al-’Alaq ayat 1-5. Namun di dalam Al-Qur’an, surah yang ada di urutan pertama adalah Al-Fatihah.
Al-Qur’an adalah kalam Allah secara lafaz dan makna. Malaikat Jibril as mendengarnya dari Allah ‘Azza wa Jalla lalu ia menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur.
Salah satu ayat yang berkaitan dengan proses turunnya Al-Qur’an adalah,
“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberikan peringatan, dengan bahasa Arab yang gamblang.” 1
Al-Qur’an memiliki susunan yang indah. Ayat-ayat dan surah-surah di dalamnya memiliki makna yang saling berkaitan. Padanya terdapat mukjizat Ilahi, keindahan sastra, dan sekaligus himpunan makna yang membawa pembacanya pada samudera ilmu dan cahaya petunjuk dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu, untuk menerangkan setiap sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira untuk orang-orang yang berserah diri.” 2
Sejarah Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu yang turun sebagai petunjuk bagi manusia. Keberadaannya di dunia telah melewati dua tahapan, yakni pada masa nubuwah dan setelah wafatnya Rasulullah saw.


Rincian sejarah Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Pada masa kenabian
Turunnya Al-Qur’an berawal di Makkah dan terus berlanjut setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Pada masa ini Rasulullah saw memerintahkan beberapa sahabat untuk menjadi pencatat wahyu. Di antara sahabat yang bertugas mencatat wahyu adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, dan Muawiyah bin Abu Sufyan.
Penulisannya menggunakan media-media yang ada pada saat itu, seperti lempengan batu, pelepah kurma, daun lontar, kulit kayu, pelana, dan bahkan potongan tulang hewan. Pada waktu itu tulisan Al-Qur’an juga tidak tersimpan pada satu tempat, melainkan disimpan oleh sahabat-sahabat secara terpisah-pisah.
2. Pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khattab
Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, para sahabat mulai mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an. Seusai perang Yamamah yang menyebabkan banyaknya penghafal Al-Qur’an gugur syahid, para sahabat merasa khawatir akan keutuhan dan keterjagaan Al-Qur’an.
Umar bin Khattab ra menyampaikan kekhawatiran ini kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra yang waktu itu menjabat sebagai khalifah. Ia meminta Abu Bakar memulai penyusunan dan penulisan Al-Qur’an menjadi sebuah kitab.
Awalnya Abu Bakar menolak usulan ini karena Rasulullah saw tidak pernah memerintahkannya. Setelah mempertimbangkan lebih lanjut, akhirnya Abu Bakar setuju. Dia memanggil Zaid bin Tsabit ra dan menunjuknya sebagai ketua penyusunan dan penulisan Al-Qur’an.
Zaid, dengan bantuan para sahabat lainnya, lantas mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an yang tersebar. Abu Bakar menyimpan lembaran-lembaran ini. Setelah khalifah pertama wafat, Umar melanjutkan tugas ini.
3. Penyusunan Rasm Utsmani
Umar bin Khattab ra wafat sebelum penyusunan dan penulisan Al-Qur’an selesai. Selanjutnya Utsman bin Affan ra yang menjabat sebagai khalifah. Suatu ketika Hudzaifah menemuinya dan mengatakan bahwa terjadi banyak perselisihan di kalangan umat Islam mengenai Al-Qur’an.


Mendengar hal ini, Utsman lantas meminta lembaran-lembaran Al-Qur’an yang tersimpan di rumah Hafshah binti Umar bin Khattab ra. Selanjutnya dia menyerahkannya kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Harits, dan Ibnu Abbas untuk menyalin dan mengumpulkannya dalam satu kitab.
Salinan tersebut yang kemudian menjadi mushaf Al-Qur’an di tengah umat Islam. Gaya penulisan Utsman bin Affan ini selanjutnya terkenal dengan sebutan Rasm Utsmani dan menjadi kaidah yang terus digunakan di seluruh dunia.
Penyusunan Urutan Surah dalam Al-Qur’an
Sebenarnya penyusunan urutan surah Al-Qur’an sudah terjadi sejak masa Rasulullah saw masih hidup. Di samping mengajarkan bacaan dan pemahaman Al-Qur’an, beliau juga mengajarkan bagaimana letak ayat-ayat dan surat-surat di dalam Al-Qur’an.
Pada masa itu para sahabat belum menuliskan Al-Qur’an dalam satu kitab mengingat pada waktu itu wahyu belum selesai turun. Menuliskannya pada saat itu belum memungkinkan karena Al-Qur’an masih mengalami perubahan seiring turunnya ayat-ayat yang baru.
Demikian, Sobat Cahaya Islam, sedikit gambaran mengenai penulisan dan penyusunan urutan surah dalam Al-Qur’an Al-Karim. Semoga dapat menambah wawasan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.































