Tanda Orang Beragama dengan Nafsu dalam Beribadah, Hati-Hati Terjebak

0
108
tanda orang beragama dengan nafsu

Tanda orang beragama dengan nafsu – Dalam kehidupan beragama, tidak semua semangat ibadah berbanding lurus dengan kebenaran arah ibadah itu sendiri. Ada kalanya seseorang tampak rajin beramal, giat menjalankan berbagai ritual sunnah, namun tanpa disadari justru terperosok dalam jebakan hawa nafsu. Mengenali tanda orang beragama dengan nafsu wajib Sobat waspadai.

Ini Tanda Orang Beragama dengan Nafsu 

Fenomena beragama dengan nafsu sudah sejak lama diingatkan oleh para ulama, salah satunya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari. Melalui nasihat-nasihat mendalam dalam karya monumentalnya, Al-Hikam sebagai peringatan agar tidak terjebak dalam ritual ibadah hanya karena nafsu.

Berikut ini tanda orang beragama dengan nafsu yang wajib Sobat hindari:

1.Hilangnya Skala Prioritas

Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa salah satu tanda paling jelas dari orang yang mengikuti hawa nafsu dalam beribadah adalah hilangnya skala prioritas. Seseorang bisa terlihat bersemangat mengerjakan amalan-amalan sunnah, namun justru bermalas-malasan ketika berhadapan dengan kewajiban. 

Dalam pandangan beliau, kondisi ini bukanlah tanda kesalehan, melainkan peringatan serius tentang arah ibadah yang keliru. Hawa nafsu, sebagaimana dijelaskan para ulama, tidak selalu mendorong manusia pada perbuatan maksiat yang kasat mata. Terkadang, nafsu justru membungkus dirinya dengan rupa kebaikan. 

Nafsu mendorong seseorang rajin beramal, tetapi memilih amal yang sesuai selera dan menghindari kewajiban yang terasa berat. Akibatnya, seseorang merasa sudah dekat dengan Allah, padahal sedang menjauh dari perintah-perintah utamaNya.

tanda orang beragama dengan nafsu

Contoh tanda orang beragama dengan nafsu yang sering terjadi adalah ketika seseorang mampu menjaga puasa sunnah secara rutin, namun justru meremehkan kewajiban puasa Ramadhan. Secara lahiriah, amalan sunnah tersebut terlihat mulia. 

Namun ketika kewajiban yang Sobat tinggalkan, akan menjadi bukti bahwa hawa nafsu telah mengambil alih kendali dalam beribadah.

Hal serupa juga tampak dalam shalat. Ada orang yang mampu bangun malam untuk mengerjakan shalat Tahajud, tetapi sering menunda atau bahkan meninggalkan shalat Subuh dan shalat wajib lainnya. Padahal dalam Islam, amalan wajib memiliki kedudukan yang tidak bisa Sobat gantikan oleh amal sunnah sebanyak apa pun.

Para ulama menegaskan bahwa mendahulukan sunnah daripada wajib adalah bentuk kekeliruan serius dalam beragama. Ibadah wajib merupakan pondasi, sedangkan ibadah sunnah adalah penyempurna. Ketika fondasi Sobat abaikan demi hiasan, maka bangunan ibadah menjadi rapuh.

Syekh Ibnu Athaillah mengibaratkan kondisi ini seperti seseorang yang lebih memilih membeli barang mewah daripada memenuhi kebutuhan pokoknya. Mereka rela menahan lapar demi gengsi dan kenikmatan sesaat. Sikap semacam ini, menurut para ulama, lahir dari akal yang tidak sehat dan hati yang telah dikendalikan hawa nafsu.

2. Memilih-Milih Dalil

Seseorang yang hanya menerima dalil atau pendapat sesuai keinginan, bahkan mengabaikan dalil menjadi tanda orang beragama dengan nafsu. Orang-orang yang mengedepankan nafsu bahkan menciptakan aturan baru dalam beribadah yang tak Rasulullah ajarkan. Allah sudah memberikan peringatan ketika nafsu menjadi Tuhan sebagaimana ayat berikut ini:

tanda orang beragama dengan nafsu

Pada akhirnya, ibadah yang benar bukanlah soal banyaknya amalan, melainkan ketepatan dalam menempatkan prioritas. Islam mengajarkan keseimbangan, di mana kewajiban harus Sobat jaga dengan sungguh-sungguh, lalu sempurnakan dengan amalan sunnah. 

Ketika seseorang mampu menundukkan hawa nafsunya dan kembali pada skala prioritas yang benar, di situlah ibadah menjadi jalan mendekat kepada Allah. Tak ada lagi tanda orang beragama dengan nafsu sebagai sekadar pelampiasan keinginan diri sendiri.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY